Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

pondok autumn

Homein the name of Allah....the most beneficent the most mercifulDec 5, 2007
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ahlan wa sahlan di pondok autumn^^

mengapa namanya pondok autumn?

untuk diriku sendiri. ini adalah caraku untuk terus melangkah. belajar pada autumn, yang merasakan pahitnya perjuangan namun masih dapat memberikan indah pada sesama.

pondok yang nyata masih dalam tahap rencana. sebuah pondok baca untuk sesama. doakan ya?

the last, semoga kita bisa sama-sama belajar pada autumn^^

NoteSep 13, '11 8:39 AM
for everyone

Blog EntrySep 13, '11 3:09 AM
for everyone
kok saya merasa, posting2 saya lebih banyak yang mellowwstroberroww gimana gitu ya?

semoga ga kelabasan jadi keluh kesah...amiin

astaghfirullah'aladzim....

autumn kan selalu kelihatan indah num. jangan sedih terus yaw. :))

*lagi ngomong sendiri*

Blog EntrySep 13, '11 2:53 AM
for everyone
saya tidak paham. apakah yang saya rasa saat ini namanya iri? dengki? semoga tidak.

hanya saja. saya benar-benar tidak bisa menghindari kepala saya untuk tidak memikirkan ini. memikirkan cita yang dulu pernah saya ucap.

meski masih kecil dan tidak begitu mengerti apa itu cita. saya tetap bersikukuh dengan cita-cita saya -amat mulia- menjadi guru. dengan teladan langsung dari ibu saya, guru adalah sosok mulia sejagad raya saat itu.

cita-cita yang tetap bertahan hingga saya masuk SMA. cita-cita itu berubah. hanya karena saya sangat takjub dengan gesitnya seorang bidan desa, saya langsung mengubah cita saya menjadi bidan. di buku harian saya, buku harian teman -hehe-, dimanapun tempatnya saya bisa menulis, saya akan menulis, cita-cita: menjadi bidan.


saat mendekati waktu kelulusan, fokus saya terpusat pada satu arah: mendaftar di Poltekkes Jurusan Kebidanan. meski di saat yang sama saya diterima di Universitas Lampung Jurusan Agribisnis (jalur PKAB), jujur, saya sama sekali tidak menoleh.

kenyataan berkata lain. kenyataan bahwa saya tidak lulus tes kebidanan mampu membuat saya menangis satu jam. satu jam saja, karena di hari yang sama saya harus mengurus daftar ulang di Universitas Lampung, hari terakhir daftar ulang.

tak terfikir sama sekali tentang cita pertama saya (guru) saat-saat itu. padahal waktu pendaftaran SPMB masih cukup panjang. saya bisa saja mendaftar di fakultas keguruan. tapi entahlah, mengapa saya tidak memikirkan itu. pun kedua orang tua saya benar2 memberi kebebasan saya untuk bisa memilih sendiri.

saya juga tidak mendaftar kebidanan di tempat lain (swasta). saya paham, biayalah persoalannya. sebab untuk membiayai kami di sekolah negeri, kedua orangtua saya sudah cukup kewalahan.

begitulah. hingga akhir. saya benar-benar menjadi mahasiswa jurusan agribisnis. jurusan yang tidak pernah terfikir oleh saya sebelumnya. tapi lama kelamaan saya benar-benar mencintainya. sungguh, saya menemukan dunia saya disini.

tapi. ah betapa banyak tapi di posting saya kali ini ya?hehe. melihat dua orang sahabat saya sejak SMP hingga kini, membuat saya mau tidak mau kembali memikirkan cita.

dua cita-cita yang kini diraih oleh mereka

mira, seorang guru. dan indah, seorang bidan.

dan kemarin, indah. yang paling muda diantara kami. sudah menggenapkan setengah diennya.

Alhamdulillah. saya bahagia tentu. pun ikut khawatir oleh kekhawatiran sahabat saya yang satunya, mira. tentang keinginannya menggenapkan setengah dien yang belum tercapai.

begitulah. dititik yang sama dengan mereka, saya masih disini. begini-begini saja. ada rasa entah yang terus-terusan ingin saya usir. ada tanya yang saya takutkan menjadi wujud kufur nikmat atas pemberianNya, astahgfirullah'aladziim....

apakah saya iri dengan mereka? semoga tidak. sebab saat kuliah, saya pun punya cita-cita baru: dosen.
ah, saya sedang dalam proses untuk meraihnya.
tidak mudah untuk meraihnya?
saya paham
lebih tidak mudah untuk yakin bahwa saya bisa!
saya amat paham

doakan saya ya, kawan :))


Blog EntrySep 12, '11 10:37 AM
for everyone
Saya selalu bergumam dalam hati, "apaan sih!?" kl ketemu nama fb semisal ini: udinnya tuti - tutinya udin. Heuh!!!

Kl yang emang suami-istri sih ga masalah. Sah2 aja. Yang bener2 jadi masalah kl 2 orang itu belum menikah. Pasang status engaged pula! Jelas2 belum woy! *esmosi jiwa*
lucu juga sih, ada hubungannya dengan saya enggak, kok ya saya sewot???
Hmm, ya emang sih. Suka2 masing2 orang itu mah. Yang dosa juga mereka kok.

Cuma, terlintas juga di benak saya...satu kekhawatiran tentang 'ia'. Ia yg namanya sudah tertulis di lauh mahfudz...bahwa ia jodoh saya (deuu...).

Saya khawatir *bener2 khawatir* 

khawatir kl nama yang tertulis itu adalah udin. Udinnya tuti.
Atau edward. Edwardnya bella. 
Haghaghag. Ngaku2 deh si bella :p

astaghfirullah'aladzim...

#jaga kami ya Allah. Jaga kami.


[tapi saya yakin. Ketika saya berusaha menjaga diri. Ia juga disana sedang melakukan hal yg sama]^^



Blog EntrySep 11, '11 9:47 AM
for everyone
saya mampu menjadi air, saat api meletup-letup dari arah manapun, dari siapapun. saya mampu mengubah rasa sakit menjadi bahagia tiada tara, senyum disaat luka, tertawa disaat pedih di ulu hati. bukan berwajah dua, hanya saja mungkin saya tipe orang yang mudah melupakan masalah. meski sejenak.

saya tak pernah mau terlihat lemah meski sendi-sendi tubuh saya rasanya hendak lolos satu persatu. saya survive di tempat baru yang bersuhu ekstrim, setidaknya memaksa untuk terus berfikir,"indah banget disini!" lantas membuang jauh-jauh fikiran,"saya ga betah disini!"

saya tak pernah mengeluarkan airmata hanya untuk sebab-sebab yang terdefinisikan dari kata 'cengeng'. saya sangat membenci kata-kata negatif dan amat mencintai kata-kata positif.


saya tak hendak memaksa keinginan saya pada orang-orang yang saya cintai, lebih berlapang dada menerima apapun ketulusan mereka. saya bisa basah kuyup sehari semalam, tentu saja dengan rasa badan yang tak karuan, namun berkata: saya baik-baik saja!

saya benar-benar tak ingin merepotkan orang lain. membuat mereka khawatir.

saya tak pernah curhat pada siapapun dengan airmata mengalir deras. tak suka orang lain memberi uluran tangan saat menemukan saya terjatuh. saya bisa bangun sendiri. lantas kembali berlari.

itulah saya. tak hendak memamerkan ini pada siapapun. tak hendak merasa hebat dibanding siapapun. hanya saja, normalkah jika detik ini saya ingin sekali ada yang memeluk saya. mendengar isak saya. menepuk bahu saya. lantas berkata: kamu ga sendiri num. semua akan baik-baik saja. demi Allah! atas izinNya

*disaat yang sama saya mendengar kata: putuskan hubunganmu dengan keluh kesah. katakan: Loe! Gue! End! @MTGW

sepertinya itu jawaban yang Allah beri untuk saya. pelukanNya untuk saya *,*



Blog EntrySep 7, '11 4:37 AM
for everyone
kegagalan adalah sukses yang tertunda.


saya tahu itu


semua akan indah pada waktunya.


saya berkali-kali mengucap itu.


dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.


saya yakini itu.


tapi jujur, saya merasa lelah.


dan payah.


ah, terlalu membesar-besarkan saya rasa. sebab merasa lelah harusnya adalah dampak dari perjuangan yang teramat sangat. merasa payah adalah hasil dari cucuran keringat yang tak henti mengalir. lalu saya?apakah perjuangan sudah benar-benar saya nikmati? apakah cucuran keringat sudah benar-benar menetes dari dahi juga hati?

jujur lagi. belum. sama sekali belum.

saya sadar. baru sadar tepatnya. setelah tanya skeptis yang terus-terusan saya lontarkan pada diri. kenapa? bagaimana? untuk apa? seperti apa? kapan? dimana? ada jawab yang berdengung-dengung di gendang telinga saya: memang apa yang sudah kamu lakukan?????hah?????!!!!!!!

ah, lagi-lagi. saya terlalu membesar-besarkan usaha saya yang sebenarnya masih teramat kecil. tidak cukup syarat untuk bisa di-acc olehNya. apakah saya sudah mengurangi waktu tidur saya dan melebihi waktu produktif diatas rata-rata orang kebanyakan? apakah saya sudah melakukan percepatan untuk mengejar kecepatan yang dilakukan orang-orang? apakah saya sudah rela berjalan berkilo-kilo hanya untuk menghadiri majelis ilmu? apakah saya sudah berlipat-lipat mengulangi materi ilmu yang sudah saya dapat? apakah saya sudah terus menyisihkan atau bekerja apa saja untuk mendapatkan sedikit demi sedikit uang sebagai modal? apakah saya juga sudah kesana kemari. lamar sana lamar sini. mengejar info sana sini. dimaki-maki. atau bahkan dicaci-caci (hehe, sama aja)?????

saya hanya berusaha membangunkan diri saya yang terus-terusan berkata: tidak masalah. akan ada waktunya saya berhasil. akan tiba rasa manis yang akan saya nikmati. semangat!!!. tapi nyatanya saya sedang menangis di sudut kamar. mata saya basah oleh tanya yang sebenarnya protes: kenapa saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan? (Astaghfirullah). nyatanya saya berputar-putar pada tanya-tanya negatif. meski saya berkali-kali bilang saya terus-terusan berfikir positif ;(

saya malu.

pada Dia tentu.

padaNya.

padaMu

pada Allah. Rabbku dan Rabbmu.

#Ampuni hamba ya Rabbi


Hey semut!!!!! ajari saya ya!!!!
-pondokautumn-

Blog EntrySep 6, '11 5:59 AM
for everyone
saya merindukan aku. aku yang begitu menggebu-gebu. tak lelah berfikir positif. tak henti mengalahkan fikiran negatif.

saya merasa saya bukan lagi aku. aku yang mampu tersenyum meski dalam kenyataan terpahit sekalipun. aku yang lebih memilih tertawa-tawa dan bercanda sampai teman-temannya merasa si aku sama sekali tidak memiliki masalah. atau aku yang mampu tenggelam berlama-lama dalam sudut-sudut lemari perpustakaan sekolah. lantas dengan berat hati mengucapkan se yu bay bay pada buku-buku rapi jali dalam deretan lemari bertuliskan "boleh dibaca tapi tidak boleh dipinjam.". aku yang sangat menyukai novel-novel buya hamka tapi baru mengetahui bahwa beliau seorang ulama besar. aku yang 'sok' memahami majalah sastra bernama horison, dan tenggelam bersama karya-karya besar ws rendra, pramoedya ananta toer, gola gong, dan sederetan nama luar biasa lainnya.



saya sudah jauh dari aku. aku yang berlangganan majalah MQ dalam keterbatasan uang saku. merasa malu dan tidak enak hati pada seorang guru karena berlama-lama tidak bisa membayarnya. aku yang tanpa malu sedikitpun berjualan donat, berdua dengan kakakku membuatnya lantas menitipkannya di kantin sekolah. diam-diam memperhatikan siapa saja yang membeli donat-donat itu.

aku yang begitu terpukau oleh kumpulan cerpen 'ketika mas gagah pergi' milik kakakku yang dihadiahkan oleh teman-temannya. merasa sudah terbuka mata dan hati tentang hidup. dan begitu menggebu-gebu mengubah diri menjadi seorang 'akhwat'. aku yang begitu bangga dengan pakaian muslimahnya. aku yang tak perlu khawatir tentang apapun, sebab ia yakin ada Allah SWT menyertainya selalu.

ah, aku yang diam-diam merasakan sesuatu yang membuncah dalam hati ketika seseorang melintasi jejak dalam retina matanya. merasa ini indah namun begitu takut akan ketidaksukaanNya. mengakui bahwa itu 'cinta' namun tahu ada embel-embel 'monyet' dibelakangnya. untuk pertama kalinya, dia tidak menyambangi buku-buku, tapi justru merangkai kata-kata entah yang mungkin 'lucu':
"ada sesuatu yang bergerak-gerak disini. di hati. kala aku mendengar ada yang menyebut namamu. 
ada yang menari-nari disini. di hati. kala aku menangkap siluet bayangmu dalam retina mataku. 
ada yang meledak-ledak disini. di hati. kala kau begitu santun tersenyum dan menegurku."


aku yang menikmati hidup. haus akan ilmu. semangat akan ilmu. amat tahu betapa penyakit ujub, iri, dengki, dan kawan-kawan sangat penting dijauhi. ah, aku. aku yang begitu tahu apa yang harus ia lakukan. mantap menjalani masa depan. dimanakah kini duhai aku?

saya rindu sekali pada aku. benar-benar merindukannya.

semoga kami kembali bisa bersatu. Amin.

-pondokautumn-

Blog EntrySep 6, '11 5:36 AM
for everyone
Entahlah awalny seperti apa

Sy hanya teringat 1 kata saat mendengar cerita ttg kepercayaan daerah sy sndr (lampung,red) dr jaman orang2 tua dl (mereka menyebutny 'yunei'). Ttg unsur yg ada yaitu tanah, air, udara, dan api. Unsur2 yg diberikan sesuai dgn urutan usia anak-anak di suatu keluarga.

Detailny seperti ini, anak pertama memiliki yunei tanah, anak kedua air, ketiga udara, dan yang keempat api. Begitu terus menjadi siklus jika jumlah anak lebih dr empat.


Dan 1 kata yg langsung terfikir saat mengetahui cerita itu adlh: avatar. Hehehe. Film avatar the legend of aang. Ternyata ada jg cerita disini meski dgn versi berbeda.

Yang menarik, hal yang paling diperhatikan oleh para orang tua dari yunei anak2nya adalah kecocokan yunei dari calon suami/istri anak2 mereka. Yang paling dihindari adalah anak kedua menikah dengan anak keempat, yunei air bertemu dengan yunei api. Api akan mati oleh air. Bala besar!
Yg paling bagus jika anak pertama menikah dengan anak pertama. Tanah bertemu tanah. Akan semakin tinggi. Juga anak pertama dengan anak kedua. Tanah bertemu air. Akan subur. Atau juga anak kedua dengan anak ketiga. Air bertemu udara. Melimpah ruah.

Ah, entahlah. Sy tdk perduli sbnrny. yg paling penting, alhamdulillah kedua orang tua sy sama sekali tidak perduli dengan yunei :)

hanya saja, menarik buat sy mencoba memasang2kan yunei itu. banyak kemungkinan yg ambigu. Bukti yunei adalah hal tak masuk akal (meski tidak perlu dibuktikan). Tapi nyatanya masih banyak orang tua yg berpegang teguh, yakin kebenaran akan yunei ;"(

terakhir, sy teringat saat seorang ibu yg sudah menikah n memiliki 3 orang anak mengatakan ini kepada sy, pun kepada suaminya: pantes aja hidup sy begini, baru tau yunei sy yang tanah ketemu dengan yunei suami yg udara. Jadi setiap sy kumpulin satu2 itu tanah. Diterbangin sama udara!
Dikumpulin. Habis. Dikumpulin. Habis.

Hm, miris memang. Sebab, siapapun yg mengenal suaminy ini, tentu sependapat dgn sy, betapa beruntungny ia yg memiliki suami sholeh n amat baik
Wallahu'alam
astaghfirullah

Blog EntrySep 5, '11 6:16 AM
for everyone
baru mau posting....

nyak udah manggil....

hehehehe....

see u bay bay... insya Allah....

Blog EntryAug 31, '11 11:07 PM
for everyone

Senja itu, aku mengobrol dengan seorang teman. Obrolan kami terus meluas, sampai satu penggalan obrolan itu berganti tema dari tema awal. Kurang lebih seperti ini,
Teman : kenapa kamu suka menulis num?
Aku     : karena aku ingin seperti Abi (panggilan untuk ayah kandungku,red).
Teman : (sedikit membelalakkan mata, siap melahirkan pertanyaan baru) Beliau
  seorang penulis?
Aku     : Bukan. Abi seorang pegawai negeri sipil.
Teman : (kali ini mengernyitkan kening, tak mengerti) Beliau suka menulis?
Aku     : Tidak. Beliau hanya suka membaca.
Teman : Lalu kenapa alasannya karena kamu ingin seperti Abimu?
Aku     : (aku tersenyum melihatnya penasaran seperti itu) karena beliau  suka
  memberi. Memberi apapun yang beliau miliki. Aku ingin seperti beliau.
  Dan buatku, memberi dengan menulis adalah yang kumampu untuk saat
  ini. Harapanku, dengan menulis, akan ada orang yang menerima
  manfaatnya. Semoga.

Aku tidak bermaksud melucu. Seratus persen serius. Tapi temanku itu justru tertawa. Sangat menarik menghubungkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada hubungannya, begitu katanya. Aku dengan percaya diri menjawab. Tentu ada dong, hubungan ayah dan anak. Jawaban yang hanya membuat tawa itu semakin panjang umurnya.

Akhirnya, mengalirlah sedikit cerita tentang seorang lelaki sederhana yang kupanggil Abi itu. Seseorang yang membuatku lebih perhatian pada ‘memberi’ daripada ‘menerima’. Yang membuatku ingin terus menulis.

Lelaki berusia lima puluh tiga tahun itu amat biasa. Di mata orang kebanyakan, beliau biasa-biasa saja. Pegawai negeri sipil di badan pengawas Kota Bandar Lampung yang sekarang berganti nama menjadi Inspektorat Kota Bandar Lampung. Staf dengan golongan IV/A namun punya banyak pinjaman di bank dan koperasi. Dalam hal pendapatan dan pengeluaran, keluarga kami yang beranggotakan tujuh orang, seorang ayah dan ibu serta kelima anak-anaknya, masih tergolong besar pasak daripada tiang. Besar pengeluaran daripada pendapatan. Tuntutan hidup yang seringkali memaksa orang-orang gelap mata. Memanfaatkan posisi sebagai abdi negara untuk menangguk harta rakyat sebanyak-banyaknya, tidak membuat Abi ikut arus kedalamnya. Padahal tidak jarang banyak yang menawarkan suap saat beliau memeriksa suatu kasus. Beliau tetap teguh dalam pendiriannya. Berjalan lurus meski tak bergelimang harta. Terus mengajarkan kami hidup sederhana, mencari nafkah dari jalan yang halal.

Sejak dulu, Abi tidak pernah henti bekerja keras. Istirahat hanya saat tidur di malam hari. Sepulang dari shalat subuh di masjid dekat rumah, beliau akan menyalakan televisi untuk mendengarkan ceramah di televisi lokal. Setelahnya pergi ke kebun depan rumah, atau ke kolam belakang rumah, mengerjakan apa saja. Lantas pergi kerja pagi sampai siang hari, terkadang sampai magrib kalau ada tugas keluar. Sepulangnya langsung ke kebun atau ke kolam, lagi-lagi mengerjakan apa saja. Tidak heran kalau fisiknya terlihat kurus tapi kuat, kulitnya hitam, di wajahnya nampak guratan-guratan letih simbol perjuangan yang tak henti.

Bagiku. Abi sangat luar biasa. Sorotan matanya, senyuman langkanya, kata-kata bijak yang juga langka, setiap peluh yang menetes dari tubuhnya, adalah sumber energi semangat yang tidak pernah lekang. Abi adalah seorang ayah yang tiap jejak langkahnya selalu menginspirasiku. Seorang ayah yang memberikan kasih, sayang, juga cintanya sebanyak udara yang ingin kuhirup. Tanpa kata dia mencintai, tanpa kata dia menyayangi. Beliau selalu mengajarkan dengan contoh, jarang dengan kata-kata. Termasuk mengajarkan betapa memberi adalah kekuatan luar biasa, kebahagiaan tak terkira. Abi sama sekali tidak pernah mengatakan itu, tapi itulah yang kubaca dari apa yang beliau lakukan selama hidupnya.

Semangatnya untuk terus memberi sering sekali membuat kami, keluarganya, heran dan sulit mengerti. Seperti waktu itu, di tahun 2004, saat aku naik ke kelas tiga SMA. Kakak perempuanku satu-satunya telah lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah. Selain itu, adik perempuan yang tepat dibawahku akan masuk SMA, adik laki-lakiku akan masuk SMP. Disamping masalah pinjaman yang cukup menumpuk, usaha sampingan budidaya ikan gurame dan ikan patin yang tidak membuahkan hasil. Keadaan ekonomi yang memburuk itu memaksa Abi untuk menjual rumah kami satu-satunya. Rumah yang dibangun dengan penuh perjuangan semasa hidupnya. Lantas akhirnya kami mengontrak sebuah perumahan di dekat rumah lama.  Aku sangat ingat saat itu, beberapa  sanak saudara yang selama ini jarang terlihat, kenalan-kenalan lama yang tidak pernah berkunjung ke rumahku, tiba-tiba datang. Tumben sekali.

Akhirnya aku tahu, mereka datang untuk meminjam uang. Uang dari hasil menjual rumah kami satu-satunya. Tidak sedikit yang mereka pinjam. Satu juta rupiah, lima juta rupiah, bahkan sepuluh juta rupiah. Dengan potongan membayar hutang sana-sini, keperluan daftar ulang kuliah kakakku, biaya bimbingan belajarku, biaya daftar ulang sekolah adik-adikku, biaya kontrakan rumah, dan lain-lain. Sisanya hanya cukup membeli sebidang tanah seluas dan sebidang kolam. Pertanyaannya, bodohkah Abiku? Saat tidak memiliki bahkan sangat-sangat membutuhkan uang, beliau dengan ringan tangannya memberi uang tanpa tambahan ‘bunga’ setelah nanti mereka berjanji mengembalikannya di kemudian hari tanpa jelas hari itu kapan. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya kala itu, bahkan protes meski dalam hati. Kemudian aku tahu, itulah cerminan moto hidupnya,
“Tak punya tapi memberi.”
Moto yang membuat keningku berkernyit saat pertama kali mendengarnya. Bagaimana memberi jika kita sendiri tidak memiliki? Aku belum  mengerti. Tidak bisa mengerti.

Salah satunya kebiasaan memberi Abi adalah kesukaannya menanam. Menanam pohon di pinggir-pinggir jalan, di kebun, bahkan di tanah milik orang lain. Dimanapun ada tanah kosong, Abi akan meminta izin pemiliknya untuk ditanami pohon yang beliau beli sendiri bibitnya di balai pembibitan. Pohon teduh di sepanjang jalan desaku adalah hasil buah karya Abi. Berjejer rapi. Beliau memberi dengan tangannya. Memberi hewan-hewan tempat hidup. Memberi orang-orang yang berjalan payung peneduh. Selain pohon, beliau juga suka menanam tanaman musiman, jagung, singkong, mantang, kacang tanah, pepaya, timun. Mulai dari mengolah tanah, menanam satu persatu, memberinya pupuk, menyiram jika musim kemarau. Kerja penuh seorang petani di sela-sela kesibukannya bekerja. Saat panen, mulailah kami sekeluarga sibuk. Sibuk memanen dan menjualnya ke tetangga-tetangga juga sanak saudara. Dengan harga nol rupiah alias gratis. Abiku memang bukan seorang wirausahawan dunia, tapi beliau wirausahawan akhirat. Aku yakin, keuntungannya saat berniaga dengan Allah adalah keuntungan tak terkira kelipatannya. Aku sangat yakin itu. apalagi saat pertama kali aku membaca hadits ini,
“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jadilah dengan penuh kesadaran, aku terus mendapat pelajaran darinya. Terus berusaha lebih dekat dengan memberi. Selalu terkagum-kagum tentang kisah para pemberi. Kebahagiaan mereka saat memberi, kebahagiaan mereka merasakan bahagia si penerima.

Sampai detik ini, aku terus belajar tentang memberi, belajar untuk memberi. Dari apapun, dari siapapun. Tapi lebih banyak dari Abiku. Cerita tentang beliau bukan untuk membangga-banggakannya. Sungguh bukan untuk mengisyaratkan, liat nih bokap gue. Sama sekali bukan. Aku hanya ingin berbagi pengalaman tentang kekuatan memberi, atau bahasa tenarnya the power of giving. Betapa kekuatan memberi juga mampu memberi inspirasi. Setidaknya pengalamanku, aku selalu berusaha mencontoh Abi diam-diam. Aku selalu mengingat-ingat apa yang akan dilakukan Abi jika bertemu dengan kejadian seperti yang aku alami saat orang lain butuh pertolongan. Semampu yang kubisa, akan kuberi. Harapan dan doaku kedepan adalah saat estafet memberi Abi jatuh kepadaku, saat itu kuharap tidak lagi tidak punya. Sehingga moto itu ditanganku berubah. Punya dan memberi Punya banyak dan terus memberi. Semangat memberi!^_^

Blog EntryAug 28, '11 9:49 AM
for everyone
Banyak gugur terhempas paksa
pertanda suratan tak bisa terhindar
dalam bisu
riuh
sepi
ramai
pun dalam sakit
sehat
waras
gila
hanya ada pilihan
Khusnul atau Su'ul....

Allahu Rabbi....matikan kami dalam sebaik-baik keadaan T_T

*dalam rasa entah. khawatir tak lagi bersua dengan ia... sang Ramadhan...*,*

Blog EntryAug 28, '11 9:42 AM
for everyone

“Tibas pesai bagian, di tiuh Negararatu
Api munih harapan, sanak mak ngedok guna
Sanak mak ngedok guna, sakik mak ngedok banding
Ibarat kayu capa, banding kayu kemuning”

Nisa tertegun menatap tanah lapang bertabur ilalang, sejauh seratus meter dari becak yang ditumpanginya. Akhirnya pulang juga ia. Rindu yang tertimbun seolah memaksa keluar. Membuncah. Menggelegak. Bukan hanya rindu pada Nyanyik dan Yayik. Tapi pada seluruh isi atmosfer kampung tercinta. Tiuh Negararatu, sebuah kampung di ujung Kabupaten Lampung Selatan. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, Nisa diboyong kedua orang tuanya ke pulau Sulawesi saat akan menginjak bangku SMA dan segera setelahnya ia melanjutkan kuliah di negeri Jiran, Malaysia.

Lamun niku lapah, nyak jama sapa, Nis?” begitu tanya Yani, sahabatnya, sepuluh tahun yang lalu.
Ya khadu lah. Tidak ada apapun yang bisa kulakukan. Aku ini siapa. Tidak pantas berkata seperti tadi. Hati-hati di jalan.” Yani berlari setelah berderai-derai airmata. Tanpa menunggu kata-kata Nisa.


Itulah terakhir kali Nisa bertemu dengan Yani. Seorang sahabat yang amat ia kasihi. Tidak seperti anak-anak seusianya. Yani memiliki rasa rendah diri yang berlebihan. Sangat pendiam. Jarang sekali berbicara. Suka menyendiri. Berwajah pilu. Yani terlahir cacat. Kaki kirinya kecil, jauh dari ukuran normal. Dari keluarga miskin, miskin harta miskin adat, dan tentu juga miskin pandangan orang. Ia sering sekali dihina orang-orang, terutama teman-teman seusianya. Yani kecil. Ia hanya mampu menangis tertahan di balik pohon capa di pinggir padang ilalang. Suatu hari, saat Nisa juga ada disana. Sibuk menangkap capung. Tak sengaja menyimak nada pilu yang terlantun pedih itu.

“Sanak mak ngedok guna, sakik mak ngedok banding
Ibarat kayu capa, banding kayu kemuning
Banding kayu kemuning, janah mak sesuai
Minyak dicampor way, janah lampu mak ukhik”

Nisa mulai mengenal Yani sejak ia sering mendengar lantunan itu. Merasakan kepedihan yang mendalam. Nisa kasihan. Apalagi saat melihat kaki anak itu ternyata tidak normal.. Tak ada yang tak cocok dari mereka kecuali satu. Yani selalu berkeluh kesah. Sedih. Tak bersemangat. Merasa takdir yang ditentukan untuknya selalu buruk. Namun dari semua itu, betapa Nisa sangat mengagumi mata bening Yani. Mata bening yang masih indah meski bersanding dengan wajahnya yang pilu.

Ulah api niku bekawan jama sanak sa?” Basir, anak paling bongsor dan paling berkuasa di kalangan anak-anak seusia mereka itu mencegat Nisa suatu hari. Tak terima anak baru yang dalam pikirannya seharusnya ikut kelompoknya, ternyata akrab dengan seorang Yani. Beberapa anak menjadi ekor di belakang. Memandangnya tak suka. Nisa sama sekali tidak takut. Yani, tidak pantas untuk diremehkan seperti itu.
“Memang kenapa? Yani anak baik.”
“Dia cacat.”
“Lantas kenapa?” Nisa meninggikan suaranya. Kesal.
“Dia miskin.”
“Miskin bukan dosa.!”
“Dia juga bodoh. Tidak sekolah!” Kali ini Basir sudah kelewatan. Geraham Nisa mengeras. Tangannya mengepal. Ingin sekali dilayangkan tinju ke arah anak itu. Biar tahu rasa. Tapi saat itu, bola matanya menangkap tatapan Yani. Sedang bersandar di pagar tembok rumah yang bersisian dengan lapangan. Menunduk. Tanpa ekspresi. Lalu berlalu begitu saja.

Segera saja Nisa menyusul sahabatnya itu. Ingin klarifikasi. Tapi ternyata Yani sama sekali tidak terlihat tersinggung. Apalagi marah. Seperti biasa. Wajah duka itu tampak datar. Ada satu sisi dari seorang Yani yang tidak Nisa pahami. Saat-saat seperti itu, Nisa belum bisa mengenal sahabatnya ini.

Hidup Yani terlalu pedih untuk diterima oleh anak seusianya. Buyahnya meninggal gantung diri setelah musim paceklik memaksa mereka memiliki hutang belasan juta dengan wak Dullah. Setelahnya otomatis Umiknya yang banting tulang mencari uang untuk menyambung nafas dan membayar hutang meski itu tidak mungkin. Fisik Yani yang cacat tidak memungkinkan bisa bekerja berat mengangkut pasir di pinggir way seputih. Daing Abu, kakak satu-satunya yang kala itu seumuran anak SMA sudah minggat entah kemana. Kata orang, menjadi anak buah preman di ibukota. Yani. Sahabat Nisa yang hanya mengenyam bangku kelas empat sekolah dasar. Yani. sahabatnya yang selalu bersedih. Nisa tidak menyalahkannya. Nisa tulus untuk berteman dengannya. Setidaknya bisa sedikit membantu Yani, agar sahabatnya itu mau tersenyum. Meski hanya sesekali. Ah, entah bagaimana kabar sahabatnya itu sekarang. Nisa rindu.
Kak sappai nak. Iji lamban Suttan Mahkota.” Suara mamang becak menyadarkan Nisa dari lamunan. Rumah panggung itu tidak berubah sama sekali, meskipun terlihat lebih aus dimakan usia. Tidak lama dua sosok yang amat ia rindukan telah muncul di beranda rumah. Nyanyik dan Yayik.
+++
Nisa duduk di bangku kayu yang terletak di bawah pohon jambu samping rumah. Perlahan ia menarik nafas panjang, menatap jauh ke depan. Mendengarkan irama-irama khas pedesaan. Aroma yang sama. Suara burung, desiran angin sejuk, gerobak sapi, yang sedikit berbeda adalah beberapa bunyi kendaraan bermotor yang sesekali lewat.

Suasana sore seperti ini mengingatkannya pada masa-masa kecil dulu. Saat ia dan Yani tak kenal lelah bermain sepanjang sore. Sekedar berjalan menyusuri jalan di kampungnya, menaiki gerobak sapi yang melintas, merayu anak-anak laki-laki agar mereka diperbolehkan main kelereng juga gundu. Menangkap capung atau bermain layang-layang di tanah lapang beralas ilalang, tempat favorit mereka. Tentu saja dari semua yang mereka lakukan, Yani tetap sama. Tidak pernah tertawa. Wajah berduka. Sekedar mengekor Nisa di belakang. Hanya senyum tipis yang mampu ia gambarkan.

“Tibas pesai bagian, di tiuh Negararatu
Api munih harapan, sanak mak ngedok guna
Sanak mak ngedok guna, sakik mak ngedok banding
Ibarat kayu capa, banding kayu kemuning
Banding kayu kemuning, janah mak sesuai
Minyak dicampor way, janah lampu mak ukhik”

Niku mak bosan menyanyikan lagu itu terus, Yan?” Tanya Nisa suatu hari. Mereka berdua sedang duduk di bawah pohon capa. Sudah setengah jam, lagu itu terus terlantun.
Yani tak menanggapi. Hanya suara desahan pelan yang terdengar.
 Nyak bosan mendengarnya. Sudah lima tahun kita berteman. Tidak ada lagu lain yang niku nyanyikan selain lagu ituNisa berkomentar asal sambil tertawa pelan. Kali ini Yani menoleh kearahnya. Lantas terdiam beberapa detik untuk menjawab,
“Lagu ini sangat pas untukku.”
Nisa mengernyitkan keningnya. Tak mengerti.
“Seolah lagu ini dibuat untukku. Anak tidak berguna. Sekedar kayu capa. Tidak akan sama dengan kayu kemuning.” Nisa tak bereaksi. Masih tak mengerti. Terlalu sering kata-kata pedih diucapkan seorang Yani.
+++

Sanak sikop mak patut berwajah masam seperti itu.” Nyanyik menangkap mendung di wajah Yani. Ia sedikit mengubah ekspresinya, malu. Yani datang untuk mengantarkan kue pesanan Nyanyik. Sehari-hari ia membantu umiknya berjualan penganan di pasar Natar. Nisa yang saat ini baru pulang dari sekolah menyambung omongan Nyanyik sembari mengganti seragam putih birunya.
Yani lagi banding-bandingkan kayu capa dengan kayu kemuning, nyik.” Godanya terkikik. Yani menoleh kearahnya. Ingin membantah. Tapi urung, ia justru berbalik menoleh, bertanya pada nyanyik
Nyik, kenapa kayu capa dan kayu kemuning berbeda ya? Kayu capa jelek. Kayu kemuning bagus.”
“kayu capa, kayu kemuning. Semua bagus. Kayu capa kuat untuk bangunan. Kayu kemuning bagus untuk hiasan. Berbeda. Tapi semua bagus.”
“Tetap saja kelihatannya kayu capa jelek, nyik.”
“Yani, bagus itu tidak selalu dilihat dari apa yang terlihat. Sama seperti manusia. Ada yang terlihat cantik dari luar. Tapi jelek hatinya. Ada juga yang hatinya cantik. Walaupun luarnya biasa saja. Kita harus tetap bersyukur. Allah Maha Adil untuk semua ciptaanNya” Jawaban nyanyik membuat Yani terdiam. Nisa tak tahu apa yang  dipikirkannya kala itu.

Nisa menarik nafas perlahan. Episode-episode masa kecilnya tidak pernah terlupa. Seperti penggalan sore hari yang selalu rutin menghampiri. Tatapannya meluas ke jalan raya. Matanya menangkap satu sosok gadis berjilbab rapi. Mengendarai motormatic menuju arah rumahnya. Setelah memarkir motornya, ia terlihat membawa bungkusan berwarna biru. Tersenyum menyapa Nisa,
“Asalamu’alaikum?” Nisa balas salam dan tersenyum.
Nyanyik ada?” Tanyanya kemudian
“Ada. Ayo silahkan masuk.” Ajak Nisa sambil memanggil Nyanyik.
“Ini titipan dari Batin, nyik.” Terang gadis itu sembari menyerahkan bungkusan kain biru di tangannya.
“Alhamdulillah. Terima kasih. Nurul dari sana?” Ia mengangguk. Nyanyik mengajaknya duduk, mengobrol barang sebentar. Gadis bernama Nurul ini terlihat tidak asing. Ah, Nisa amat kenal dengan mata itu. Mata yang sama dengan mata milik Yani. Mata indah sebening telaga.
“Ini Nisa, cucu nyanyik yang baru selesai kuliah dari Malaysia. Sedang liburan disini.” Terang nyanyik tanpa diminta. Nurul menyodorkan tangan menyalami Nisa.
“Nisa ini sahabat batinmu Nur. Mereka sangat dekat sampai sekolah menengah pertama.”
Nurul terpana. Mengangguk-ngangguk dan tersenyum sumringah padanya. Batinnya adalah Yani? Adik sepupuYani kah?

Belum sempat Nisa bertanya, cerita itu meluncur pelan. Nurul bercerita dengan berderai-derai airmata. Mata nyanyik pun turut basah. Bagaimana Nurul yang saat duduk di sekolah menengah atas mengidap penyakit glukoma. Segera setelahnya ia mengalami kebutaan total. Bagaimana Yani yang kala itu bekerja sebagai pengantar makanan bagi pasien di rumah sakit bisa mengenal Nurul. Sehari-hari Yani semakin rajin membesuknya. Mendengar cerita Nurul yang selalu penuh semangat, sama-sama mendengar kaset murottal, atau sekedar menemaninya dalam diam.

Suatu hari, ada kabar gembira bagi Nurul. Ada seorang dermawan yang bersedia mendonorkan matanya. Dan kenyataan bahwa pendonor itu tidak lain adalah Yani, membuat Nurul seperti disambar halilintar kala itu.
“Saat itu, Batin mengatakan satu hal padaku. Aku harus bisa memanfaatkan matanya. Agar berguna bagi orang banyak.”
Hati Nisa bergetar setelah mendengar semuanya. Ada rasa entah yang menjalar disana.
+++
Wajah sederhana berbalut kerudung cream itu terlihat amat sejuk. Pemilik wajah itu sedang sibuk menggerakkan tangannya diatas buku tebal penuh titik-titik. Huruf Braille. Sekian menit berlalu, Nisa hanya mampu memandanginya dari jauh. Air matanya jatuh perlahan. Betapa Yani adalah sahabat yang sangat ia kasihi. Apakah ia semakin menderita selama ini? Apakah keputuan yang diambilnya adalah sebab keputusasaan melihat dunia? Hati Nisa pedih. Isakannya tertahan.

Nisa mendekat. Yani merasakan kehadiran seseorang, lantas menoleh pelan.
“Ya..ni..?” panggil Nisa pelan. Tercekat oleh pilu juga rindu. Sekian detik udara menerjemahkan suara kearahnya, Yani menutup bukunya lantas berusaha berdiri
“Nisa? Nisa bukan?? Nisa?” Nisa meraih tangan dan menghambur ke pelukan sahabatnya itu. Isaknya tak tertahan. Menghadapi kenyataan.
Niku pasti bertanya, mengapa nyak mau seperti ini. Iya kan nis?” Nisa menggenggam tangan sahabatnya itu lebih erat. Memang itu yang ingin ia tanyakan.
Nyanyik benar nis. Kayu capa juga bagus, amat bermanfaat.” Bulir-bulir airmata semakin cepat mengalir di sudut mata Nisa.
Niku tahu? Mataku adalah mata seorang calon dokter. Aku bahagia, nis. Maka kau pun harus bahagia.”
Wajah itu berbeda. Terlihat menyejukkan. Senyum Yani teramat indah. Nisa yakin, sahabatnya itu memang telah menemukan kebahagiaannya.
Nyak tahu, nyak juga bahagia untukmu, Yani.”
Betapa hidup memiliki beragam rasa. Dan bahagia, adalah satu dari sekian pilihan yang ada. Yani sudah memilihnya.
+++

Footnote:
Tiuh : kampung
Nyanyik : Nenek
Yayik : Kakek
Buyah : Ayah
Umik : Ibu
Niku : Kamu
Nyak : Saya
Batin, Daing: Kakak
Sanak : Anak
Sikop : Bagus, cantik
Mak : Tidak
Bupattun : Syair lampung:
Tibas pesai bagian, di tiuh Negararatu : Ada satu cerita, di kampung negararatu
Api munih harapan, sanak mak ngedok guna : apalagi harapan, anak tidak berguna
Sanak mak ngedok guna, sakik mak ngedok banding : anak tidak berguna, sakit tidak terkira
Ibarat kayu capa, banding kayu kemuning : ibarat kayu kecapi dibandingkan kayu kemuning
Banding kayu kemuning, janah mak sesuai : dibanding kayu kemuning, jelas tidak sesuai
Minyak dicampor way, janah lampu mak ukhik : minyak dicampur air, jelas lampu tidak hidup

Lamun niku lapah, nyak jama sapa nis? : kalau kamu pergi, aku dengan siapa nis?
Ya khadu lah : ya sudah lah

Ulah api niku bekawan jama sanak sa? : kenapa kamu berteman dengan anak itu?
Kak sappai nak. Iji lamban Suttan Mahkota: sudah sampai nak, ini rumah Suttan Mahkota

(akan dimuat dalam antologi cerpen Forum Lingkar Pena Sesumatera 2011) insyaAllah


Blog EntryAug 28, '11 9:33 AM
for everyone
sebuah puisi prosaik perdana

Ini Tanahku (Tanahmu), Lantas Kau Hanya Menumpang
: Fadila Hanum

Sebersit rasa tak rela. Atas nyata yang diharapkan tak pernah ada. Lama menatap kapal-kapal yang merapat. Lelah pada dorongan air laut. Kembali pulang. Nyaris kehabisan nafas yang dipanjang-panjangkan. Maaf. Tapi aku masih ingin terlihat ada. Berbalik menengok kebelakang. Cengkeraman Krakatau masih menghujam rupanya. Aku kira telah berubah. Mengiringi zaman yang kian tak masuk akal. Merebut tanahku menjadi tanahmu. Meski tetap menjadi tanahku.


Disini. Ketika rahim menelurkan wujudku kedalam dunia. Nasib menuntunku menjadi pongah. Remeh memandang kau yang kala itu kebingungan. Terkatung-katung. Menunduk-nunduk. Budak -begitu panggilan sambutan yang kuberikan- harap ikuti setiap perintahku.
: Ini tanahku, lantas kau hanya menumpang

Tidak. Sudah kukatakan padamu. Kita tak sama. Bahkan oleh pijakan yang satu. Nyatanya tanah yang kini kurelakan bisa membuatmu tidak melayang pun bukan apa-apa. Beberapa jengkal tanah tanah berharga menjadi sumbangan. Ikan-ikan kecil yang tak menjadi hitungan, dengan rakus kau telan semuanya. Aku tertawa. Oleh ketotolan juga kemiskinan yang kau tunjukkan. Terima kasih sudah memberiku hiburan. Kau melewatiku. Kembali menunduk-nunduk. Entah segan hormat. Entah takut sembari mengumpat. Masa bodo! Kunikmati saja. Kuperintahkan duduk. Kau ikuti. Kuperintahkan berdiri. Lagi-lagi kau ikuti. Lucu sekali.

Masa itu aku adalah tuan
Masa itu kau adalah budak
Sepanjang jalan aku tetap pongah. Tak sadar kecolongan oleh tampang bodoh yang diperlihatkan. Satu-satu aku tergerogoti. Tadinya aku ingin menuduhmu yang tak tahu diri. Tapi vonis justru mengarah padaku yang zero usaha. Memang dunia milik moyangmu? Begitu ejek langit menertawakanku yang basah kuyup. Apa salahnya jika kuingin nikmati dunia? Bukankah itu cermin syukur menjadi hamba. Di sudut sana, aku sempat melihat sekilas. Kau sedang mengumpulkan bulir-bulir keringat.
: Ini tanahku, lantas kau hanya menumpang

Roda hidup terus berputar. Begitu katanya. Cepat membawa lari masa depan yang dikejar-kejar banyak manusia. Tak sedikit yang terlindas. Katamu, kau melihatku disana. Menjadi gepeng oleh besi yang tanpa ampun menggilas tubuhku. Lucu sekali. Kau mencoba bergurau padaku? Mengapa aku tidak kesakitan? Bahkan merasakan ada yang menyentuhku pun tidak? Percuma bicara denganmu. Kau hanya mengerti bagaimana menanam lantas memetik hasil. Sesekali nikmati hidup ini bung! Kau tak ubah seperti pemuja dunia. Aku tergelak atas senyum sebaris itu. Jawaban tolol dari orang tolol. Kau katakan Tuhan akan memberi jika kita mencari. Itu yang namanya rejeki. Maaf! Mungkin Tuhan kita tak sama?

Tikaman ini sejak kapan bersarang ditubuhku? Kau kah yang menancapkannya disitu? Luka itu terlanjur mengeram. Membiru. Nyaris membusuk oleh debu.

Gedung-gedung menjulang yang hanya mampu terlihat jika dongakan kepala ditujukan padanya seakan mengejekku. Sinis memandangku yang melewatinya beralaskan sendal jepit. Lantas apa? Kau ingin bilang aku kalah? Oleh kemalasan juga kebodohan yang dengan senang hati kujadikan rekan? Aku sudah muak mendengar ceramah dari mulut-mulut lipstik yang katanya cantik merona.
: Ini tanahku, lantas kau hanya menumpang
Sampai kapanpun itu masih berlaku. Meski tak sekerat roti bernama bumi ini menjadi milikku. Meski diatas kertas kau katakan ada namamu. Dengan berat –atau justru senang- hati berkata,
: Ini tanahmu, lantas kau hanya menumpang

(akan dimuat dalam antologi Puisi Forum Lingkar Pena Sesumatera 2011) InsyaAllah

Blog EntryAug 12, '11 8:39 AM
for everyone

Hari yang melelahkan. Aku merebahkan tubuh segera setelah sampai dikamar. Seharian menjadi ketua pelaksana kegiatan bakti sosial BEM di kampus cukup meloloskan sendi-sendiku. Memejamkan mata lima belas menit dulu sebelum mandi, begitu yang kuinginkan. Belum satu menit mata terpejam, tiba-tiba suara panggilan menyebalkan itu membahana seantero rumah. Suara Fandi, adik bungsuku. Fiuh…
“Mbak El…?!” Aku diam, malas menjawab.
 “Mbak El cantik….!!!” Usaha yang bagus.
“Mbak El cuantik buanget!!!” Usaha yang sangat bagus. Panggilan terakhir terlontar tepat saat pemilik suara sampai di depan pintu kamarku. Melongok ke dalam. Menangkap sasarannya sedang tepar di tempat tidur.
Aih, mbak El ini dipanggil-panggil nggak nyahut. Nggak merasa cantik ya? Memang sih Fandi tadi fitnah. Maaf ya mbak. Lain kali nggak diulangi deh. Fandi janji…”
“Stop! Apaan sih. Nggak lihat apa mbak lagi tidur?!!” Potongku sewot. Nih anak memang kebangetan. Pasti sengaja membuatku naik darah. Tawa fandi pecah. Merasa sukses gangguannya berhasil.

Sist. Plis help Fandi dong. Pe er english language ini is so hard you know. Oh really-really menguras tenaga and pikiran. Do you help me?” Fandi kumat ber cas cis cus ala cinta laura. Kebiasannya mencampur aduk bahasa inggris dan indonesia dengan tenses salah fatal. Bagian dari proses pembelajaran, begitu pembelaannya saat aku protes pertama kali. Pembelaan yang kemudian dipuji Ummi. Hidungnya kembang-kempis menyebalkan, alisnya naik turun lebih menyebalkan. Sejak itu Fandi dengan sok fasihnya sering sekali ngomong bahasa inggris.
“Haduh, sudah deh langsung saja ke inti. Mana PR nya!?” Aku menyerah. Bangkit dari tempat tidur lantas mengambil buku dari tangan Fandi.
***
Muhammad Fandi. Anak kelima dari lima bersaudara alias anak bungsu dikeluargaku. Seorang anak berumur empat belas tahun dan duduk di bangku SMP kelas tiga, yang memiliki kepercayaan diri luar biasa. Sialnya, kakak-kakaknya terutama aku, sering menjadi tumbal kepedeannya itu. Tak terhitung seberapa sering aku kesal, tapi ujung-ujungnya menyerah untuk tertawa. Tidak pernah serius marah. Aku akui, adik bungsuku ini sungguh-sungguh seru. Membuat hidup penuh warna. Tidak ada Fandi, ibarat makan sayur asem tanpa ikan asin, ibarat minum teh tanpa soda. Hehe.

Ikut serta dalam jalur pendidikan formal, Fandi sebentar lagi lulus dari SMP. Dan jelas saja, ia pun harus berperang terlebih dahulu untuk dapat lulus. Perang menghadapi ujian nasional. Tidak seperti ujian akhir nasional yang bergiliran pernah dialami oleh kakak-kakaknya. Ujian nasional Fandi adalah ujian yang membuat seisi rumah ketar-ketir. Umi khawatir, Abi harap-harap cemas, keempat kakak-kakaknya ikut tegang. Hanya satu orang yang bersikap biasa-biasa saja, seolah tak perduli. Orang itu adalah Fandi. Ya, orang yang sama sekali tidak terpengaruh dengan lawan perang bernama ujian nasional adalah orang yang akan menghadapi ujian itu sendiri. Fandi jarang belajar di rumah. Jangankan belajar, menyentuh buku saja kadang-kadang. Itu kalau sudah dibujuk-bujuk Umi atau diomeli kami, kakak-kakaknya. Fandi malah tenang-tenang saja. Dengan santai dia bilang,
“Fandi kan sudah belajar di sekolah mi, bimbel juga. Jadi pasti bisa lah ngerjain UN.” Aku yang saat itu sedang ada disana menimpali,
“Ya tapi mbok ya diulang-ulangi lagi di rumah.” Aku berkata santai sambil meliriknya sekilas tanpa melepas konsentrasi pada buku yang sedang kubaca. Fandi mendelik kearahku,
“Mbak El ini payah. Kerja kok dua kali. Sekali kita sudah mengerti, jangan dilupa lagi.”
“Tapi semakin sering diulang semakin mahir. Semakin sering latihan semakin lancar kemampuan kita.” Jelasku diplomatis
“Lancar? Kayak air got saja harus lancar, kalau nggak lancar ya akhirnya mampet.” Fandi nyengir, menyebalkan. Gitu tuh anak kalau dibilangin. Pikirannya kemana-mana.
***
Tidak terasa Ujian Nasional (UN) tinggal menghitung hari. Aku yang terus memantau perkembangan belajar Fandi sangat kesal malam itu, saat melihatnya tenang-tenang menonton televisi, tertawa-tawa menyaksikan program komedi show.
“Fandi! Belajar!!!”
“Nanti.” Jawabnya singkat, tanpa melepaskan matanya dari menatap televisi. Aku yang sudah sangat kesal langsung menarik tangannya paksa.
“Sana belajar! Jangan nonton terus. Ntar mbak adukan ke Umi lho!” Ancamku
Apaan sih mbak, detik-detik menjelang ujian itu adalah waktunya mendinginkan otak. Biar fresh pas ujian.”
“Kamu mah dari dulu didinginkan terus otaknya. Lama-lama beku jadinya. Ayo belajar!”
Dengan malas Fandi berjalan menuju kamarnya. Aku menguntit dari belakang. Ia memaksakan diri duduk di kursi belajarnya. Lima detik kemudian, usahaku cukup berhasil. Fandi sudah sibuk dengan bukunya. Setidaknya bisa bertahan setengah jam kedepan. Fiuh. Susahnya.
***
Akhirnya UN datang juga. Kehadirannya mau tidak mau membuat kami sekeluarga jadi semakin tegang, walaupun lagi-lagi Fandi terlihat sangat santai. Tidur nyenyak, makan teratur, nonton televisi jalan terus, main bola tidak pernah absen setiap sore sepulang dari bimbel. Bahkan sampai hari ini, hari dimana Fandi mau tidak mau harus menghadapinya. Fandi pergi sekolah seperti hari-hari biasa. Yang berbeda hanya kami, anggota keluarganya yang lain, satu-satu mewanti-wanti Fandi. Baca doa dulu sebelum mengerjakan soal, siapkan alat tulis selengkap mungkin, jangan lupa bawa nomor peserta ujian, jangan menyontek, bundarkan jawaban serapi-rapinya, hapus jawaban yang salah sebersih-bersihnya. Yang jadi sasaran cuma nyengar-nyengir sambil sesekali mengangguk-angguk ringan.

Hari kedua dalam periode pelaksanaan UN. Sore itu aku sedang merapikan bunga-bunga euphorbia di halaman rumah. Tiba-tiba Dina, tetangga dekat rumah yang juga teman sekolah Fandi muncul dihadapanku.
“Mbak, Fandi kemana?” Tanyanya langsung sembari ikut membungkuk membantuku membersihkan rumput-rumput yang memenuhi pot bunga.
Nggak tahu. Main bola kayaknya.” Jawabku asal. Tapi sepertinya benar, karena sepuluh menit yang lalu Fandi bisa kabur dari pengawasannya. Dasar tuh anak, sudah tahu besok masih ada ujian. Malah kabur.
Kok dari kemarin-kemarin, Dina sms nggak pernah sampai ya mbak? Teman-teman lain yang juga sms Fandi juga pending. Apa nomornya rusak? Apa hapenya hilang?”
“Nggak kayaknya. Memang sms apa? Penting?” Tanyaku kemudian.
“Penting banget mbak…” Jawab Dina mengambang
“Terus, kenapa nggak tanya tadi pas di sekolah?”
“Ya nggak boleh mbak. Ini kan sangat rahasia. Ntar kalau ketahuan sekolah kami yang jadi tumbal.” Dina menjawab sambil tertawa kecil. Mencurigakan. Aku jadi penasaran.
“Maksudnya? Memang rahasia apaan?”
“Itu loh mbak. Kunci jawaban UN. Sms pilihan ganda langsung dari guru-guru kami. Dikirim malam sebelum ujian. Kan sayang kalau Fandi nggak dapat.”
“Apa?!!!!! Kunci jawaban?????!!!!” Suaraku naik seribu oktaf. Dina menoleh cepat. Kaget dengan kehisterisanku. Ia mengangguk takut-takut. Saat itu mungkin aku terlihat seperti mengenakan kostum hallowen. Menyeramkan. Siap menelannya hidup-hidup.
***
O em ji…. Kunci jawaban? Inikah jawaban atas masalah Fandi selama ini. Sebabnya Fandi tidak pusing-pusing belajar dirumah. Karena ia akan mendapat kunci jawaban. Benar-benar ya, para guru yang budiman di zaman sekarang. Apa yang mereka fikirkan dengan memberi siswa kunci jawaban?! Sekolahnya aman karena semua lulus?! Tapi yang tergadai jauh lebih besar dari itu. Kejujuran siswa! Inilah sebabnya banyak koruptor kelas kakap di negeri ini. Karena justru para guru yang mengajari mereka di kelas teri untuk tidak jujur. Aku sangat marah! Tidak bisa terima. Ingin sekali kutumpahkan kekesalanku. Tentu saja pada Fandi. Ah, percuma nasihat-nasihatku selama ini. Tidak masuk telinga kiri ataupun telinga kanan. Langung dipentalkannya keluar. Belajar! Jujur! Jangan menyontek! Ah, benar-benar percuma!

Saat kepalaku sedang panas-panasnya, aku mendengar suara salam Fandi. Aku langsung menghampirinya, siap menginterogasi.
“Ayo ngaku!”
Ngaku apaan??!”
Ngaku nggak kalau kamu salah?!!”
“Kebiasaan nih mbak El. Memvonis tanpa penjelasan. Kasih pendahuluan dulu, tinjauan pustaka, baru kemudian isi dan pembahasan.” Di saat-saat seperti ini, Fandi masih saja bercanda.
“Kamu dapat kunci jawaban kan?” Tuduhku langsung tanpa ba bi bu
“Kunci jawaban apa?”
“Ujian nasional! Tadi Dina bilang dia sms kamu, kirim kunci jawaban. Langsung dari gurunya!” Aku tidak menurunkan nada bicaraku. Sangat marah.
“Terus sampai nggak smsnya?” Fandi memandangku sebal
Nggak. Katanya pending!”
“Tuh, berarti Fandi nggak baca. Nggak tahu isi smsnya.”
“Maksudnya?!”
Hape Fandi nggak aktif, mbak. Jadi sama sekali nggak baca sms.”
“Kenapa? Rusak?” Nada bicaraku turun drastis. Melunak.
Nggak. Sengaja dinonaktifkan.”
“Sengaja?”
“Iya. Fandi sudah dengar isu sms kunci jawaban itu sebelum UN. Malah salah satu guru bilang langsung ke Fandi. Waktu Fandi bantu membawakan buku ke ruangan beliau. Makanya h min satu UN, Fandi sengaja nonaktifkan hape. Supaya nggak tergoda. Mbak El kan yang bilang, sampai berbusa-busa. Jujur. Jujur. Jadi orang jujur susah. Percuma lulus ujian nasional tapi tidak lulus ujian kejujuran. Apa jadinya negeri ini nantinya, kalau generasi pewarisnya membudayakan ketidakjujuran di sekolah. Mbak El juga bilang…”
Duh…kata-kata Fandi bagai satu drum air dari Kutub Utara terbang ke Gurun Sahara. Tidak hanya menyejukkan tapi membuatku menggigil. Tak kutunggu Fandi sampai selesai bicara, dengan cepat kupeluk dia secara paksa. Yang menjadi korbanku megap-megap meminta pertolongan. Aku tidak perduli. Aku sangat terharu. Walau seperti apa jahilnya Fandi, ternyata dia masih mendengarkan tiap kata-kataku. Bahkan mampu diulangnya sama persis. Aku tidak mampu menahan airmataku. Tidak perduli, meskipun pasti diolok-olok Fandi.
“Mulai deh telenovelanya. Sok mellow banget sih mbak. Pake nangis segala. Ini apaan lagi. Lepasin geh!” Fandi berteriak-teriak meronta. Aku tidak menggubris olokannya. Kali ini kepedean Fandi sangat membuatku bahagia. Duh, Fandi…
***
 (dimuat dalam antologi Serba-serbi Ujian Nasional bersama Tri lego dkk)

Blog EntryAug 12, '11 8:33 AM
for everyone

Jakarta is a big trouble. Terkadang aku tidak percaya di negara carut marut inilah aku dilahirkan. Well, ini bulan pertama aku kembali ke tanah air, sejak enam tahun lalu terbang ke Los Angeles. Jelas saja belum terbiasa dengan sistem waktu karet di Indonesia. Dua jam lebih dua puluh menit. Selama itu aku terjebak di arus jalanan ibukota? Gila!

Disinilah aku, siap mengemban takdir yang sudah kuketahui sejak kelas empat sekolah dasar. Kakekku, imigran asli dari Jepang, tuan Fujita adalah pemilik perusahaan raksasa Queenfeed International group beserta kedua belas anak perusahaannya. Beliau hanya memiliki satu putri, yaitu ibuku. Dan ibuku hanya memiliki satu putri, yaitu aku. Keyla Presahard. Right! Aku harus menggantikan posisi kakekku, tuan Fujita yang telah wafat satu minggu yang lalu, menyusul ayah dan ibuku. Disinilah aku, sendiri berada di puncak jaringan raksasa QI group, membawahi sepuluh ribu karyawan.

Aku sudah terbiasa sendiri. Ugh! Lebih tepatnya memaksa untuk terbiasa. Sejak dini pendidikanku sudah diatur kakek. Setamat SMP program akselerasi, aku melanjutkan sekolah menengah atas ke LA, pun mengambil program sarjana Hubungan International di Los Angeles University. Tiga tahun dua bulan setelahnya, tepat di usiaku yang ke sembilan belas tahun aku lulus dengan predikat cum laude. Meski umurku belum menginjak kepala dua, kedewasaanku bisa diuji. Tak ada waktu untuk membuang waktu percuma ala anak muda zaman sekarang. Shoping? Salon? Spa? Aku cukup menghubungi Mrs. Wien. Asisten pribadiku itu bisa dibilang mesin apa saja. Bisa mengerjakan segala sesuatu yang kubutuhkan. Sekali bilang, semua sudah dihadapan. Sempurna!
“Ada lagi, sekretaris Kim?” Lamunanku buyar tepat setelah sekretaris Kim, orang kepercayaan kakek itu selesai memberitahu keseluruhan agenda hari ini. Meeting dengan direktur PT. bigtecno group, presentasi laporan bagian HRD, juga penandatanganan kontrak dengan perusahaan asing. Hasuka group.
“Satu lagi nona. Satu hal yang akan saya sampaikan nanti saat tiba di kantor.”
Rahasia kah? Sampai harus dikatakan di kantor. Dahiku sedikit mengerut,
“Sekarang saja sampaikan. Hanya ada Pak Adi disini.” Sekretaris kim menoleh ke kanan, seolah memastikan pak Adi yang sedang fokus menyetir di sebelahnya dapat dipercaya.
“Pesan dari tuan Fujita, kakek anda.”
“Ya?”
“Beliau ingin anda segera menikah.” Aku tak bereaksi. Wajahku datar. Meski dalam hati sedikit kaget. Tentu saja, sebab kakek tidak pernah menyinggung soal pernikahanku sebelum beliau wafat. Lagipula kakek juga tahu pasti aku tidak punya calon suami. Dan lagi, Helo? Sekali lagi! Helo??? Aku masih berumur sembilan belas tahun!
 “Hm, dengan siapa?” logikaku berjalan. Ini pasti strategi kakek demi kemajuan perusahaan. Menikahkanku dengan pewaris tunggal perusahaan raksasa juga kah?
“Bagas. Anaknya tuan Handoko. Pemilik perusahaan Hamphuss group.” Exactly! Tepat dugaanku.
“Lakukan saja. Kapan?”
“Setidaknya anda perlu bertemu dengannya terlebih dahulu, nona.”
“Untuk apa?”
“Memastikan suka atau tidak.”
“Apa itu penting?” Ah. pertanyaan apa itu. Tentu saja penting. Seharusnya. Nyatanya? Tidak ada ruang bagiku untuk memikirkan hal-hal –yang sebenarnya penting- seperti itu. Sudah kukatakan dari awal. Hidupku adalah takdir untuk berdiri di puncak tertinggi QI group. Bukankah hidup hanya drama. Aku sedang berlakon menjadi raksasa pemilik segala. Skenario apapun yang kakek buat, aku tak hendak lari. Bahkan aku tak yakin, apakah di hatiku masih ada perasaan? Bulshit! Pertanyaan apalagi itu? yeah right! jujur saja, aku merasa tidak lagi menjadi manusia. Robot mungkin, sigh!
“Besok malam, Bagas dan keluarganya hendak datang ke rumah anda, nona.”
“Oke. Hubungi Mrs. Wien untuk menyiapkan segalanya.”
Mau tidak mau, aku membayangkan seperti apa calon suamiku yang bernama Bagas itu. Dingin? Sepi? Juga merasa sendiri? Kalau iya, ide kakek amat briliant! Menyatukan dua simbol perusahaan raksasa. Lucu sekali.
***
Aku mematut-matut diri di depan cermin. Berkali-kali mencocokan pakaian yang akan kukenakan pada pertemuan penting seumur hidupku. Penting? Ah, tidak biasanya aku peduli seperti ini. Bayangkan! empat jam urusan memilih warna pakaian tidak kelar-kelar! Uh yeah! Mungkin aku sudah gila!
“Tuan, Nyonya sudah menunggu dibawah.” Bi Warsih mengetuk pintu kamarku. Aku bergegas keluar setelah setengah hati memilih kemeja abu-abu berlengan panjang yang kusingsingkan hingga tiga perempat dipadukan dengan celana dasar hitam.

Namaku Bagas. Umur dua puluh empat tahun. Generasi ketiga dari pemilik perusahaan jaringan market waralaba se-Indonesia, Hamphuss group. Siapa yang tak kenal nama besar moyangku? Widiatmoko. Jadilah nama lengkapku, Bagas widiatmoko. Tapi tunggu dulu. Ditengah-tengah kesempurnaan duniaku, jangan tidak percaya bahwa aku suka sekali kabur. Terakhir aku kabur dengan kereta kelas ekonomis, namun untuk kesekian kali tertangkap
-kawanan prajurit- papi. Tak apa. Sebab aku tidak pernah benar-benar kabur. Hanya sesekali meyakinkan diri aku masih diingat oleh papi dan mami. Sekedar membuat mereka khawatir.

Well, itu terjadi sebelum aku melanjutkan studi ke negeri jiran, Malaysia. Bisa dikatakan pola fikirku berubah sejak aku berstatus mahasiswa di sana. Pijakan kakiku pada bumi sudah kumantapkan sebelum beban berat siap menimpaku dari langit. Sejak aku berkenalan dengan Ahmad, mahasiswa asal Pahang yang satu jurusan denganku itu sedikit banyak membantuku menemukan makna hidup. Ahmad sangat alim dalam masalah agama. Ilmu dan wawasannya sangat luas. Darinya aku menemukan betapa mengenal Allah dan lebih dekat denganNya adalah nikmat tak terkira. Darinya aku pahami bahwa hidupku yang serba bergelimangan materi akan bisa menjadi boomerang jika tanpa alas tumpu yang kuat. Tanpa remote bernama agama yang mengontrolnya.

Kembali ke soal akan pergi kemana aku malam ini. Aku akan datang melamar. Uh! Surprise bukan? Key. Teman kecilku. Uh bukan! Maksudku anak dari teman ayahku. Gadis kecil yang tiga kali pernah bertemu denganku. Pertama saat ayahnya meninggal. Yang kuingat, gadis kecil berkuncir kuda itu berlinang airmata dalam diam, digendong ibunya melihat prosesi pemakaman. Kedua, lima tahun berikutnya. Gadis yang masih berkuncir kuda itu terisak-isak dipangkuan kakeknya, melihat prosesi pemakaman sang ibu. Untuk ketiga kalinya aku bertemu, pun di prosesi pemakaman sang kakek, tuan Fujita. Anehnya, ekspresi itu kini berubah. Ia tidak terisak sama sekali. Pun tidak juga mengeluarkan airmata. Dingin. Rapuh.

Tuan Fujita sudah menganggap papi sebagai anaknya. Ia sangat dekat dengan keluargaku. Setahun terakhir, aku dan tuan Fujita semakin akrab. Mengobrol santai, memancing bersama. Darinya aku tahu banyak mengenai Key. Dan tawaran untuk menikahi cucunya itu tidak kutolak sama sekali. Entahlah, mungkin aku sudah merasakan cinta sejak melihat gadis berkuncir kuda itu berlinang airmata. Haha! Lucu bukan? Tapi sungguh, aku serius. Pun amat kupahami ketika tuan Fujita secara resmi menyampaikan permintaannya kepadaku, agar Key bahagia, begitu ucapnya haru. Aku sempat memberitahu Ahmad dan meminta sarannya. Ahmad khawatir jika aku menikah dengan wanita yang tidak sefikrah,  aku bakal ikut arus. Aku katakan padanya gadis ini bukannya tidak sefikrah, dia wanita muslim meski kering dari agamanya sendiri. Ia hanya belum tahu, belum mengenal, dan belum cinta. Aku tipikal dominan, dan yakin bisa mengenalkan cinta Allah padanya. That’s right! aku yakin itu.

Gerbang besar keluarga Fujita sudah terlihat di hadapanku. Gerbang itu terbuka otomatis ketika mobil yang kubawa tepat menginjak alas depan gerbang. Taman seluas lima ratus meter bertabur hiasan lampu terang benderang. Sesampainya didalam, aku, papi dan mami sudah disambut sekretaris Kim dan, uh! tentu saja Keyla. Ya Allah, hatiku dag dig dug.
***
“Inikah lelaki pilihan kakek?” Tak lepas mataku menatap lelaki itu dalam-dalam. Yang kuperhatikan hanya tersenyum takzim dan menunduk kebawah. Entah ada apa dibawah sana! Hmm, tapi boljug. Tidak kupungkiri, he is so look perfect! Like, one in a million! Or, make it two million!  Tapi tunggu dulu! lelaki ini tentu bukan tipe lelaki yang mengekor perintah. Perintah menikah demi pernikahan dua perusahaan raksasa. Jelas terlihat ia punya karakter. Ah entahlah, aku tak perlu pusing. Setidaknya, aku akan menikah dengan manusia. Bukan dengan robot. Itu melegakan.

Pihak keluarga Widiatmoko beramah tamah menerangkan maksud kedatangan mereka padaku. Selebihnya mereka menyerahkan pada kami –aku dan calon suamiku, oh my God! Kenapa hatiku gemetar begini?- untuk mengobrol, mengenal masing-masing pribadi. Lelaki bernama Bagas ini amat sopan, dia bahkan tidak menggeser tempat duduknya. Dan dia masih menunduk. Malu mungkin? Sangat menarik!
“Apakah kau mencintaiku?” gila! Pertanyaan apa itu? mataku membesar. Kaget.
Um, maksudku apakah kau menyukaiku di pertemuan pertama kita ini?”
“Kau sendiri” tanyaku balik. To be honest, aku gugup
“Aku? Ya aku menyukaimu.”
“Ok. Aku juga.”
“Apakah kau bersedia dengan perjodohan ini? Di usia yang masih muda?”
“Kau sendiri?”
“Aku bersedia.”
“Ok. Aku juga.” Damn! Suer! Aku every gugup! Ada apa denganku?!
***
Dua tahun tiga bulan kemudian
I see the sun with my whole soul….
Pagi yang merona. Seperti hatiku mungkin. Hey. Perkenalkan lagi. Aku Key. Masih ingat bukan? Aku kira kau tidak akan mengenaliku karena perubahanku. Dulu, hatiku mati. Tapi kini? Tumpah ruah oleh cinta. Hari ini aku akan memberi kejutan untuk my lovely Bagas. Uhm, sebelumnya aku akan memasak untuk pertama kalinya. Salad of potato crumble alias gado-gado. Menu istimewa untuk suami tercinta. Romantis bukan? Ssstttt! Dia sudah bangun.
“Sedang apa cinta?” Bagas merangkulku dari belakang, aku pura-pura kaget. Senang.
“Memasak. Menu istimewa untukmu.” Jawabku malu-malu.
Wow! Is so surprised! Bidadariku sangat perhatian.” Ia kini mengecup ubun-ubunku.
One more! Surprise sesungguhnya.” Sahutku sambil memberinya kotak berwarna pink.
Bagas terbelalak saat membukanya. Kaget. Bisa kupastikan jika dia bisa terbang, he will fly!
“Kau hamil????!!!!”
Aku mengangguk pasti. Bagas menyambarku masuk kedalam pelukannya yang kian menguat. Kurasakan isakan itu tak tertahan. Ya Robbi… bahagia ini. Segala puji bagi Engkau yang sudah memberiku uluran tangan. Segala puji bagi Engkau yang  mengizinkanku untuk mengenalMu, juga memilihkan Bagas untukku.
And Kakek… you’re my hero! Love you! More and more…
***
(Juara III lomba cerpen pernikahan dini oleh mbak Dewi Hastuti)

Blog EntryAug 12, '11 4:43 AM
for everyone

Namaku hitam elegan. Teman-teman sesama penghuni kelurahan Kemiling kota Bandar Lampung ini yang menjulukiku begitu. Aku tentu bangga. Dengan paduan warna hitam, abu-abu, dan merah aku memang terlihat begitu elegan. Sudah satu tahun usiaku. Sejak akan dilahirkan, manusia yang akan menempatiku menginginkan aku sesempurna mungkin. Dengan biaya yang tidak sedikit, aku diciptakan. Hasilnya, tidak ada yang menyangkal aku begitu rupawan. Desain yang modern, luas, dan mantap. Teman-temanku banyak yang iri. Mereka bilang betapa beruntungnya diriku. Bahkan manusia yang melewatiku tak sedikit yang berdecak kagum. Aku berdiri kokoh tanpa cela. Berkali-kali aku mengucap syukur. Menjadi tempat bernaung dan berkumpulnya satu keluarga bahagia adalah tujuan untuk apa aku ada.


Hari pertama aku menjalankan tugas adalah hari yang tidak pernah terlupa. Akhirnya aku bisa melihat dari dekat keluarga yang akan menempatiku nantinya. Aku begitu bahagia saat merasakan pertama kali mereka masuk kedalam tubuhku dan berulang kali mengucapkan kata-kata pujian. Aku siap mengabdi, menjadikan diriku tempat bernaung keluarga bahagia ini. Sepasang suami istri dengan tiga orang anak yang kesemuanya perempuan. Setelahnya aku tahu, tuanku adalah anggota dewan perwakilan dari salah satu partai politik besar di negeri ini. Istrinya menjadi ibu rumah tangga yang memiliki banyak kegiatan di luar namun aku tidak tahu pasti kegiatan apa saja. Lalu anak yang pertama sedang kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta, yang kedua dan ketiga masih SMA kelas 3 dan kelas 1.

Aku bersahabat dengan cream santun dan hijau lembut. Mereka ada di samping kiri dan kananku. Kami bertiga sangat dekat. Saling bercerita tentang tuan kami masing-masing. Mendengar cerita mereka tentang tuan-tuannya, aku sebenarnya merasa iri. Apalagi cerita dari hijau lembut. Betapa inginnya aku merasakan tubuhku bergetar saat ia bilang salah satu anak perempuan tuannya rutin membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Terkadang aku mencuri dengar merdu suaranya. Sangat menyejukkan meskipun hanya sayup-sayup. Walau bagaimanapun aku adalah makhluk Allah. Bagian-bagian tubuhku berasal dari makhluk-makhluk yang selalu bertasbih padaNya. Kayu- kayu kokoh yang menjadi tulang belulangku sudah berpuluh-puluh tahun tumbuh dan terus bertasbih memujiNya. Atap, bata, pasir, batu, semen, besi, juga cat asalnya dari alam, mereka semua kemudian bersatu menjadi aku. Tentu aku tidak melupakan asalku dan juga melanjutkan tasbih yang kuhimpun jadi satu. Manusia tidak tahu tasbih kami. Segala puji bagi Allah yang memberiku kesempatan mengabdi pada manusia. Tapi kemudian, aku merasa sangat merana satu tahun ini. Tepatnya setelah beberapa hari mereka ada didalamku. Setelah aku mengetahui kebiasaan yang bisa dikatakan sangat buruk dari satu keluarga ini.

“Elegan, mengapa akhir-akhir ini kau terlihat begitu sedih?” tanya cream santun
“Iya, apakah tubuhmu ada yang rusak?” tambah hijau lembut memastikan
Aku menggeleng lemah. Tidak tahu harus bercerita atau tidak. Aku malu menceritakan semua. Selama ini yang kuceritakan hanya kesibukan keluarga ini diluar yang saling mereka ceritakan satu sama lain, keluarga yang sangat akrab. Yang sebenarnya membuat kesedihanku bertambah dari hari kehari tidak lain adalah cerita-cerita mereka. Bukan sekedar cerita mengenai kegiatan mereka sehari-hari. Tapi lebih dari itu, mereka sangat suka membicarakan orang lain, apalagi keburukan-keburukannya. Kelihatannya biasa-biasa saja. Tapi nyatanya, yang kusaksikan mereka berkumpul menghadap meja besar yang penuh daging-daging busuk. Bangkai manusia. Aku ingin muntah melihatnya, tapi mereka justru terlihat tidak sabar berebutan ingin menyantapnya. Air liur mereka menetes-netes kebawah. Setiap waktu, mau tidak mau, aku harus menyaksikan mereka memakan bangkai manusia itu dengan rakusnya. Bayangkan! mereka yang kusebut manusia-manusia kanibal itu memakan bangkai di dalam tubuhku. Ya Allah…betapa merananya diriku.

Tidak hanya satu kali. Semakin hari semakin sering mereka menikmati bangkai-bangkai itu. Jumlahnya juga bertambah banyak. Seperti kecanduan, tidak bisa dihentikan. Sekali saja makanan-makanan itu sampai ke dalam tubuhku, mereka segera melahapnya sampai habis. Lalu setelahnya, kurasakan tubuhku penuh aroma busuk, sisa-sisa bangkai yang habis mereka santap. Tapi mau bagaimana? Aku tidak berdaya. Boro-boro aku berharap mendengar ayat-ayat suci Al-Qur’an terlantun merdu ditubuhku dan berharap malaikat-malaikat rutin mengunjungiku, seperti yang dialami hijau lembut. Nyatanya yang ada adalah perkataan-perkataan busuk tentang aib manusia. Belum lagi hobi mereka menonton infotainment di televisi, sampai pekak telingaku mendengar berita selebriti yang  justru suka menjadi mangsa mereka untuk dilahap dengan rakusnya. Aku harus rela akrab dengan bau bangkai. Harus sampai kapan nasibku seperti ini, Tuhan?
“Elegan?” seru hijau lembut membuyarkan lamunanku.
“Ya?” aku bertanya kaget
“Kamu mau cerita? Apa ada masalah dengan tuanmu?”. Aku menatap satu-satu wajah cream santun dan hijau lembut. Cerita? Aku membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang tuanku. Bisa-bisa namaku akan diganti paksa menjadi rumah kanibal . Oh tidak! Membayangkannya saja aku sudah ngeri. Tidak, aku tidak akan menceritakannya pada siapapun.
“Ya sudah kalau tidak mau cerita, supaya kamu tidak sedih lagi, lebih baik mendengar cerita tentang tuanku tadi malam elegan.” Cream santun masih memandangku yang terlihat bingung.
“Cerita apa?” tanyaku datar
“Anak ketiga tuanku baru saja mendapat beasiswa program magister di Universitas yang sama saat ia menamatkan program sarjananya. Itu yang dia katakan pada tuanku penuh suka cita tadi malam. Hebat bukan?”
Wow. Aku dan hijau lembut berdecak kagum mendengarnya. Penghuni cream santun memang luar biasa. Yang kutahu dari ceritanya, anak-anak tuan cream santun ada delapan orang. Keluarga besar. Dua orang sudah bekerja dan berkeluarga. Yang pertama laki-laki, punya usaha konveksi yang lumayan besar. Selain itu, ia dan istrinya baru saja membuka Taman Pendidikan Al-Qur’an di tempat tinggal mereka. Yang kedua perempuan, menjadi guru SDIT di kelurahan sebelah. Sisanya masih menuntut ilmu, tiga kuliah dan tiga masih pelajar. Kata cream santun, tuannya itu sangat mementingkan pendidikan anak-anaknya. Sampai kondisi cream santun sendiri sebenarnya cukup memprihatinkan. Sudah tua. Terlihat sangat sederhana. Tapi cream santun selalu terlihat bahagia. Ia dengan bangganya selalu bilang, “Keluarga tuanku adalah keluarga ahli ilmu.” Begitu selalu. Cerita cream santun sebenarnya membuat kesedihanku bertambah. Akan tetapi, aku turut bahagia melihat sahabatku ini bahagia.

Sejujurnya aku ingin sekali bertanya kepada teman-temanku, terutama pada cream santun dan hijau lembut. Apakah tuan mereka juga seperti tuanku? Maksudku, apakah tuan mereka juga sebenarnya suka membicarakan aib orang lain. Dengan begitu mungkin bebanku sedikit berkurang karena aku bukan satu-satunya rumah yang merana. Tapi kalau aku bertanya seperti itu, ternyata jawabannya tidak, mereka pasti curiga dan memaksaku menceritakan kenyataan yang sebenarnya. Ah, memang lebih baik kupendam sendiri saja luka ini.
***
Malam ini aku mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Seolah bermimpi, baru saja aku mendengar di dalam tubuhku akan diadakan acara. Bukan sekedar acara biasa, tapi pengajian rutin. Pengajian ibu-ibu yang diadakan bergiliran dari rumah ke rumah anggotanya, dan hari jumat ini adalah giliranku. Betapa bersyukurnya diriku membayangkan seperti apa acara yang akan diadakan hari jumat sore nanti. Bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang melantun indah atau siraman rohani yang menyentuh kalbu. Ah, betapa bahagianya. Aku sangat tidak sabar menanti hari itu tiba.
***
Sepanjang pagi aku sumringah. Cream santun dan hijau lembut turut senang melihatku kembali tersenyum. Aku tentu sudah menceritakan sebabnya kepada mereka berdua. Pengajian ibu-ibu yang akan diadakan sore ini. Aku sudah siap menjadi tempat dilantunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hati yang tersiram nasihat ustadz. Detik demi detik seolah berjalan begitu lambat. Hingga sore tiba aku menjadi begitu tak sabar. Cream santun dan hijau lembut menatapku geli. Aku tidak perduli, sebab aku sangat bahagia. Satu persatu ibu-ibu pengajian berdatangan, sampai tubuhku penuh oleh mereka. Suara-suara mereka berdengung-dengung didalamku. Menit kian menit berlalu, aku menantikan kalamullah yang tak kunjung dilantunkan. Pun tidak juga nasihat-nasihat ustadz. Betapa hancur kebahagianku setelah aku mengetahui acara inti pengajian ini ternyata arisan. Arisan pengajian ibu-ibu, begitu mereka menamakannya. Selebihnya acara itu justru dipenuhi kata demi kata yang terdengar memekakkan dari satu mulut ke mulut yang lain. Di setiap sudut tubuhku terlihat penuh dengan daging busuk. Bangkai-bangkai manusia! Aku terbelalak, tak percaya dengan apa yang kusaksikan. Darimana datangnya bangkai-bangkai itu? Oh tidak!
Sudut yang satu,
“Sudah dengar kabar anak bu Bambang yang katanya mendapat beasiswa S2 itu? Hebat juga ya”
“Alaa.. biasa aja kali bu. Gitu aja kok sudah heboh. Baru saja di dalam negeri, Lampung pula. Keluar negeri, itu baru hebat. Nanti Vita, anak saya, rencananya kuliah keluar negeri selepas SMA. Tanpa beasiswa pun, ayahnya sudah menyiapkan tabungan untuk dia kuliah di negara manapun yang dia mau.”
Sudut yang satunya lagi,
 “Ibu-ibu tahu ndak? Bayu, anaknya bu Endang. Kabarnya menghamili anak gadis orang. Pacarnya yang sering kita lihat diboncengnya itu loh bu.”
“Ih, amit-amit. Anak seperti itu yang salah ya orangtuanya. Tidak bisa mendidik anak.”
Sudut yang lain,
“iya, saya juga lihat di infotainment tadi pagi. Namanya juga artis bu, bisanya cari sensasi.”
“Tapi benar-benar tidak tahu malu ya bu. masa punya anak di luar nikah bangganya minta ampun.”
Aku ingin pingsan mendengar percakapan yang berturut-turut itu. Untuk kesekian kali, aku hanya mampu mendengar dan menyaksikan mereka bersama-sama melahap bagkai didalamku. Ibu-ibu pengajian itu sama-sama rakus memakan bangkai. Tubuhku penuh dengan kanibal. Aku sudah tidak tahan lagi. Dalam merana, aku berdoa lirih. Semoga Allah mendengar doaku dan mengabulkannya. Aku berharap aku dihancurleburkan saja. Aku lebih rela rata dengan tanah, menyisakan puing-puing dari tubuhku. Diangkut ke penimbunan atau satu-satu bagian tubuhku diambil orang-orang. Dijadikan apapun yang mereka mau. Aku lebih rela. Daripada aku harus terus-terusan menjadi tempat para kanibal memangsa makanannya. Daripada kemudian aku benar-benar berganti nama. Nama yang menyeramkan. Rumah kanibal. Lalu dengan terpaksa memperkenalkan diri, namaku hitam kanibal.

(dimuat dalam antologi Rumah air bersama group taman sastra) 




Blog EntryAug 12, '11 4:37 AM
for everyone

Tahun ke dua belas sejak pernikahan kita, Kanda. Tepat terulangnya malam yang sama, saat kalender menunjukkan tanggal dua puluh sembilan di bulan november. Kala itu tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan. Ba’da maghrib, ditemani lantunan gerimis yang basah. Aku kaget luar biasa, tak menyangka sosok yang tiba-tiba menyeruak dari langit malam itu ternyata dirimu. Entah mengapa aku mulai gugup, jantungku berdegup cepat tak karuan. Canggung kau bersalaman dengan Abahku.  Patah-patah menyampaikan maksud kedatanganmu. Ingin mengajakku terbang bersama, katamu saat itu sambil melirikku yang menunduk dingin namun nyatanya sedang meredam gugup. Seketika itu, aku dapat melihat sayapmu yang indah, terkembang begitu sempurna. Sayap yang kokoh dan jelas mampu menerjang kerasnya angin kehidupan. Gerimis menjadi saksi kala itu, Kanda. Saat kuanggukan kepala, pertanda aku mulai mencintaimu.


Aku memang sudah mengenalimu sebelum malam itu, Kanda. Kau, lelaki sederhana yang bekerja di perkebunan karet dekat sekolah tempatku mengajar. Kau, lelaki sederhana yang membuatku ngeh akan adanya dirimu setelah suatu hari sepedamu oleng saat melewati sepedaku lalu tercebur begitu saja ke dalam empang. Aku kaget menyaksikan itu. Kau tertawa lebih keras dibandingkan orang-orang yang kompak menertawakanmu. Lalu kau menangkap tawa kecilku. Cukup lama tidak kau lepaskan, sampai aku sendiri yang menghapusnya dan berlalu begitu saja. Kau, lelaki sederhana yang setelah kejadian itu, entah kenapa sering sekali aku melihatmu. Setiap kali berpapasan, kau selalu tersenyum malu. Beberapa kali kau berusaha mendekatiku, khas cara remaja, lucu sekali.

Akan tetapi, pintu hatiku terlalu rapat untuk bisa terbuka untukmu, meskipun dengan susah payah kau mencoba menarik perhatianku. Pun bukan hanya dirimu. Para kaummu juga bernasib sama. Aku tidak perduli dengan apa yang kalian lakukan. Bukan karena aku angkuh dan meremehkan kalian. Bukan. Tapi karena pintu hatiku hanya akan terbuka dan bisa dimasuki oleh satu cinta saja. Bagiku cinta adalah anugerah Allah yang harus benar-benar dijaga. Jadi aku tak ingin coba-coba.

Maaf, membuatmu kaget. Aku tak menduga kau terlonjak begitu saja dan matamu terbelalak penuh demi mendengar jawabanku kala itu. Saat senja mengantarkan niatmu, untuk kesekian kali kau melontarkan seribu kata gombal, dan yang kutangkap hanya satu kata saja. Cinta. Satu kata yang menurut hatiku sangat indah, tapi oleh suaramu terdengar lalu, tak ada makna apa-apa. Namun senja kali ini lebih merona dari biasanya. Tak seperti yang sudah-sudah, berkali-kali aku selalu berlari bersama waktu setelah melempar ucapanmu ke tong sampah. Tapi kali ini aku hanya terdiam, bernyanyi sunyi bersama udara dan daun-daun. Lama kau mematung kikuk di sebelahku, menunggu. Haruskah aku menjawabnya? Mengapa hanya ada dua pilihan? Ya atau tidak. Aku tak akan pernah menjawab ya, tapi juga enggan menjawab tidak. Sepersekian detik setelahnya, hatiku membisikkan jawaban, tapi bukan diantara kedua pilihan itu.
“ Aku tidak akan pernah mau menjadi pacarmu. Tapi jika kau datang melamarku, jawabannya akan lain.” Begitu saja aku menjawab. Jangankan dirimu, telingaku sendiri juga kaget mendengar jawaban itu. Tapi setelahnya, sayapku terkembang indah. Terbang meninggalkanmu yang masih mematung bingung.

Sejak hari itu itu aku terus saja memandangi senja yang merona di sudut langit. Menunggu saat-saat sebelum ia menuntaskan waktu. Senja kesepuluh yang kutunggu. Sejak senja menjadi saksi atas jawabanku. Aku tak tahu untuk apa aku selalu menunggu senja, tak ada yang menyuruhku menunggu. Bahkan sosokmu menghilang, raib entah kemana. Sebab itulah aku begitu kaget, Kanda. Saat mulai lelah menunggu senja dan gelap mulai menyerang, kau tiba-tiba datang. Mengajakku terbang bersama. Abahku ragu, namun tak begitu denganku. Melihat mataku, senyum Abah terlahir dan anggukan itu cukup membuatku mengerti bahwa Abah setuju. Mulailah, hari-hari setelahnya adalah hari-hari sayapmu dan sayapku terbang bersama-sama.
***
Tahun ke dua belas sejak pernikahan kita, Kanda. Tepat terulangnya malam yang sama, saat kalender menunjukkan tanggal dua puluh sembilan di bulan November. Detik ini di tahun dua ribu sepuluh. Tidak terasa kita sudah cukup lama terbang dalam ruang yang sama, mengepakkan sayap seirama, merdu sekali. Tahun keempat setelah sayap-sayap kita menyatu, kita diberi amanah oleh Gusti Allah. Sesosok malaikat yang kini sedang lelap disebelahku. Bening hati, begitu kau memberinya nama. Buah cinta sayap-sayap kita. Delapan tahun sudah usianya.

Aku dan Bening sedang asyik bercengkerama bersama mimpi, saat kau pulang malam ini. seketika aku terjaga, namun untunglah Bening tidak. Tergesa-gesa aku membukakan pintu untukmu. Dan yang kulihat, sayapmu patah lagi, Kanda. Setelah hampir satu tahun selalu kutemukan sayapmu patah. Awalnya hanya patahan-patahan kecil, namun empat bulan ini, patahan-patahan itu melebar. Kali ini terkoyak di sebelah kiri bawah. Membuat bagian itu bergelantungan nyaris lepas. Kondisinya sangat memprihatinkan. Sama memprihatinkannya dengan wajahmu yang kuyu. Kau lelah Kanda? Terbang kemana saja? Mengapa tidak mengajakku ikut serta? Adakah kau hirup udara berbeda hari ini? Ada sejuta tanya yang ingin selalu kulontarkan berbulan-bulan, Kanda. Namun, aku terus saja memilih bungkam dan mulai kembali menjahit bagian sayapmu yang patah. Berkali-kali aku tertusuk jarum, sebab penglihatanku terhalau oleh air yang menggenang disudutnya. Setiap kali kuhapus, air itu terus saja muncul. Aku harus menyelesaikan jahitanku. Pelan-pelan agar tidurmu tak terganggu.
***
Pagi ini sayapmu sudah pulih, Kanda. Setelah semalaman kujahit dengan benang cinta. Sebelum kau pergi, aku ingin kau menjawab tanya-tanya yang mengambang penuh dalam pikiranku, sejak kau selalu pulang dengan sayapmu yang patah. Aku memandangmu ragu, sebab sedari tadi raut wajahmu tak berubah. Senyummu mahal sekarang, apalagi tawa lucumu yang dulu menggelegar. Apakah kau sedang sedih? Diriku kah penyebabnya? Mohon bicaralah, Kanda. Aku menjerit sekuat-kuatnya, namun tertahan oleh dinding-dinding hati yang kedap suara. Kuharap kau mendengarnya lewat telepati cinta. Mungkinkah?

Belum penuh kutabung kata untuk mampu kualirkan lewat suara, kau tiba-tiba berdiri. Menyudahi sarapan pagi, lantas bergegas pergi tanpa melihatku lagi. Cukup lama aku tersadar dari diam dan memutuskan untuk mengejarmu ke teras rumah. Kau sudah didalam mobil mulai menghidupkan mesin.
“Kanda?” suaraku tercekat, namun cukup mampu kau dengar. Kau menoleh enggan, mengisyaratkan tanya, ada apa?
Ada sesak yang mengalir melihat tatapanmu, Kanda. siapakah dirimu kini? Bisakah  kembalikan Kandaku yang dulu? Itulah tanya yang dititipkan hatiku, namun yang yang disampaikan oleh pita suaraku hanya sepotong pesan mengambang
“Hati-hati di jalan.”
Susah payah kuberdamai dengan pilu. Berusaha terlihat biasa. memasang senyumku yang dulu selalu kau suka. Balaslah Kanda, suara hatiku berdenting. Waktu melambat, lorong-lorongnya bergerak mundur kebelakang, menuju masa dua belas tahun yang lalu. Sunyi menarikku cepat sebelum aku sampai, membawaku kembali ke masa ini, tepat saat muntahan asap knalpot mobilmu mau tak mau masuk ke dalam sistem pernafasanku. Aku kembali tersenyum getir. Setelah menonton episode itu, sunyi tak tega menyiramku dengan tawa. Ia hanya memelukku penuh iba.
***
Gerimis seharian ini menemaniku berpikir keras. Seolah menjadi nyanyian akan lara hati yang kian melenakan. Aku tidak boleh terus diam, harus ada tanya untukmu. Sebab pernah juga kau tak bicara jika tak kutanya. Saat di tahun-tahun awal kebersamaan kita. Episode-episode berjudul kekhawatiran yang membuatmu berubah tiba-tiba. Tak bertenaga, kuyu, tapi sering kalap memarahiku. Ada sekat yang begitu saja terpasang, dan baru kutahu ia tumbuh karena prasangkamu yang nyatanya salah besar. Kau mengira sayapmu tak mampu membuatku bahagia. Aku ingat, saat itu kau tak pulang berhari-hari. Aku mencarimu ke pabrik tempatmu bekerja, ternyata tidak ada. Salah satu rekanmu menunjukkan satu tempat yang segera kutemukan sosokmu disana. Duduk diatas amben bersama rekan-rekanmu membentuk satu lingkaran. Segera aku tahu, kau sedang bermain kartu. Aku mematung, tak mampu berkata-kata.
“Untuk apa kemari? Pulang saja sana!” Kau memecah kelu dari bibirku. Segera saja kutumpahkan segala. Aku tak perduli menyadari banyak orang yang menyaksikanku bersimbah airmata. Aku sangat membenci judi, kanda. Namun dengan mata kepalaku, ku saksikan kau sendiri melakukannya. Jelas saja aku panas. Kau hanya terdiam menerima ocehanku yang sebenarnya tertelan oleh tangisanku. Namun tiba-tiba, aku tersengat oleh jawabanmu.
“Karena aku tidak mampu membahagiakanmu!” kata-kata itu menggelegar nyaris membuat jantungku lepas. Seketika sunyi merajam waktu. Aku tercekat, memandangimu tak percaya.

Dengan segera, kau katakan semuanya. Prasangka yang membuatku terpana. Kau miskin, lantas tak mampu membuatku bahagia. Kau hanya seorang buruh pabrik, sehari-hari cuma mampu memberiku makan tahu tempe. Kau tinggal di mess pabrik yang sangat sederhana. Airmataku kian tumpah. Aku pedih saat memergokimu sedang berjudi, tapi lebih pedih mendengar kata-katamu. Siapa yang bilang aku tidak bahagia, Kanda? kepakan sayapmu adalah bahagiaku. Nafasmu menjadi nafasku. Rejeki sudah tertulis di lauhl mahfudz, Kanda. Kita tinggal menjemputnya saja. Dan aku sama sekali tidak menderita.

Aku terus meyakinkanmu, namun kau tetap pada pemikiranmu.
“Walaupun kau tidak merasa menderita, nyatanya aku tidak mampu memberimu bahagia.” begitu saja kau menyimpulkan. Kutatap mata yang resah itu, aku ingin kembali meyakinkanmu, tapi pelukan itu membuatku kelu. Pun saat janji itu kau uraikan untukku.
“Aku akan membahagiakanmu, kali ini percaya padaku.”
Dan janjimu benar-benar terbukti, kanda. Setelah kau memutuskan keluar dari pabrik. Kau membuka bengkel di perempatan jalan dengan modal pesangonmu. Kian lama bengkelmu meluas. Kau melebarkan usaha dimana-mana. Aku tentu menikmati masa-masa itu. Masa-masa saat senyummu selalu terkembang begitu menawan. Pun sayapmu kian terkembang sempurna. Sampai waktu membawaku menghadapi kenyataan. Suatu hari kutemukan sayapmu patah, hingga semalam selalu kutemukan patahan-patahan lainnya.
***
Waktu berhenti, ia mati. Aku pun begitu. Aku benar-benar mati detik ini. Setelah sekian lama ikut hanyut bersama  arus pilu yang mengalir deras. Tiba-tiba tersangkut di satu tempat. Tepat saat senja menyibaknya, utuh kusaksikan bersama sunyi.  Aku menangkap sayapmu yang begitu kukenal. Sekuat tenaga kuseret langkah kearahmu yang sedang tak sendiri. Kau ternganga tak percaya melihatku. Aku menatap sesosok bayi dipangkuanmu yang beberapa detik tadi kau tatap dengan penuh cinta. Hanya satu meter kurang lebih jarak kita, Kanda. Dan aku benar-benar menyadari ini nyata. Bayangan seorang wanita disebelahmu tak mampu aku gambarkan dalam siluet retinaku. Aku menunggu penjelasanmu Kanda! mengapa kau tidak bicara! Apakah kau sedang menyusun kata-kata? Sampai kapan Kanda? Sampai aku terbunuh waktu? Hatiku menopang raga agar tidak limbung. Aku menunggu Kanda, bicaralah.

Aku mencoba membaca matamu yang masih penuh menatapku seolah aku datang dari negeri entah. Sosokmu membayang oleh air yang deras memenuhi mataku. Kini terfokus pada matamu yang tak berkedip, pelan-pelan menyusun kata, ingin bicara. Aku masih menunggu, meski waktu memaksaku lari dari dunia. Sebab kutahu mata itu tidak akan berdusta. Mata yang kucinta. Mata yang bertahun-tahun mengalirkan cinta. Kanda, bicaralah. Jangan perdulikan waktu. Hatiku masih utuh untukmu. Meski kini sedang tersengal-sengal. Bernafas satu-satu.

Sepersekian detik berlalu, bayangan wanita yang tepat berada disebelahmu mulai tergambar jelas dalam retinaku. Cantik sekali ia, tapi aku tidak melihat sayapnya. Dengan cepat ia menarik tanganmu. Tatapannya tajam merobek jantungku.
“Ayo mas!” begitu ia berkata sambil tak melepas tatapannya kearahku. Sekejap kau maya dalam penglihatanku, nyatanya telah meninggalkanku yang menghitung waktu. Matamu menghilang dari mataku. Dari jauh masih dapat kulihat, wanita itu memaksamu terbang dengan ia menunggangi pundakmu. Dengan kasar berpegangan pada sayapmu kiri dan kanan. Sudah kau jawab pertanyaanku, Kanda. Atas tanya, mengapa sayapmu selalu patah? Kusaksikan utuh dalam film layar lebar ciptaanmu. Jawaban yang menikam hatiku, namun masih bernafas karena satu kata. Cinta. Satu kata yang pernah kau dendangkan dan disaksikan senja. Sampai detik ini aku masih ingat melodinya. Jika nanti sayapmu lagi-lagi ada yang patah, pulanglah Kanda. Akan segera kujahit dengan benang cinta.
***
                                   
Natar, 1 Desember 2010

Blog EntryAug 12, '11 4:34 AM
for everyone

Siang yang panas. Semakin menyengat saja setelah lewat jam dua belas ini. Terlihat dari kejauhan fatamorgana air di jalan yang pelan-pelan dilalui pak Sumadi. Pria kurus hitam itu berkali-kali menyapu wajahnya dengan handuk kumal yang tersampir di bahunya, dengan tetap mendorong becak, sumber nafkahnya sehari-hari. Becak yang tak dinaiki karena lumayan babak belur kelihatannya. Roda yang tidak berbentuk lingkaran utuh lagi, sudah peot sana-sini, ban kempes di bagian depan sebelah kiri, juga engsel bagian bawah yang patah. Sial sekali hari ini, begitu rutuknya dalam hati.

Wajah letih itu menegang, menahan kekesalan, sebab tak diketahuinya mesti ditumpahkan pada siapa rasa kesal itu. Pada seorang Ibu dengan belanjaan penuh, penumpangnya tadi? Ah, justru itulah korbannya. Untung saja Ibu itu tidak seberapa marah, hanya teriak sekilas lalu meringis memegang lengannya yang memerah akibat becak pak Sumadi yang oleng dan jatuh begitu saja. Tapi apesnya Ibu itu tidak mau bayar.
“Anggap saja ganti rugi pak!” begitu katanya ketus tanpa menunggu tanggapan pak Sumadi. Padahal dia tadi mau keberatan, tapi tak juga dipanggilnya Ibu itu. Takut kalau balik marah membentaknya. Ditatapnya saja dari kejauhan si Ibu berjalan terseok-seok kearah rumah karena memang rumahnya tak jauh dari tempat kejadian becaknya oleng dan jatuh. Beberapa detik kemudian Ibu itu hilang setelah berbelok kearah gang sebelah kiri. Hilang sudah lima ribu melayang, keluhnya dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya hanya helaan nafas berat. Belum rejeki, hibur sudut hatinya yang lain.

Becak satu-satunya itu diparkirkan di samping rumah papannya, nanti sore saja kuperbaiki, batin pak Sumadi. Dengan lunglai, pak Sumadi masuk dalam rumahnya, dan duduk begitu saja di kursi kayu. Disapu lagi wajahnya dengan handuk yang masih setia tersampir di bahunya, lalu ia meraba kantung celana, mulai menghitung satu-satu lembaran lusuh uang yang didapat dari hasil narik becak hari ini.
“Sudah pulang pak?” suara yang begitu dikenal memecah lamunan pak Sumadi, spontan ia menengok dan melihat istrinya berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
“Ya.” Jawabnya parau.
“Kok tumben pulang cepat? Ini kan belum waktu Ashar?” Tanya istrinya lagi. Agak malas ia menjelaskan sebabnya, bikin tambah kesal saja.
“Becaknya rusak.” Jelasnya parau
“Apa?” Tanya istrinya lagi memastikan. Pak Sumadi hanya diam tak mau menjawab. Tanpa menunggu jawaban, istrinya melongok ke jendela samping rumah, menjenguk kendaraan penjemput rejeki milik mereka. Memprihatinkan memang, dari jendela saja sudah terlihat miring sana miring sini, tidak mantap lagi. Rumah berukuran 4 x 6 m itu kembali sunyi. Ikut sedih atas luka becak pak Sumadi yang bersender di samping menunggu diobati.

“Sudah to pak, jangan melamun. Sebentar lagi iqomah.” Seru Istrinya demi melihat pak Sumadi yang masih terpekur lemas sejak datang tadi, padahal suara adzan sudah cukup lama berseru-seru memanggil.
Astaghfirullah! Seru hatinya kaget. Pak Sumadi sadar betul, untuk urusan yang satu ini dia tidak mau rugi. Di dunia boleh susah, tapi di akhirat no way. Becaknya boleh rusak, tapi sholatnya no way. Tergesa-gesa pak Sumadi menuju masjid yang hanya berjarak seratus meter dari rumahnya. Untuk sejenak urusan becak menjadi terlupa.
***
“Sudah, pilih nomor satu saja. jangan lupa, wakilnya asli orang sini lo.” Suara pak Hadi rekan seprofesi pak Sumadi itu lantang terdengar. Dengan wajah yakin, dia katakan pada teman-temannya sesama tukang becak bahwa nomor satu adalah pilihan tepat. Ada sekitar enam becak yang parkir menunggu giliran mengangkut penumpang di perempatan jalan itu. Berikut enam pengemudinya, termasuk pak Sumadi. Mereka mendengarkan pak Hadi berkampanye ria panjang lebar begitu meyakinkan. Yang jadi sasaran hanya manggut-manggut saja mendengarkan. Entah setuju entah tidak, pak Sumadi sendiri pun tak tahu.

Pemilukada yang ramai digelar tahun ini cukup menyedot perhatian, terutama bagi mereka para tukang becak. Mereka asyik membicarakan pemilukada Kabupaten Merak yang satu bulan lagi akan digelar. Sebenarnya perhelatan rutin ini cukup memiliki arti bagi mereka, masyarakat kelas bawah. Karena dengan menyoblos itulah andil mereka untuk negeri ini bisa mereka lakukan, dibalik harapan janji-janji saat kampanye benar-benar bisa dilakukan dengan baik, tidak sekedar omong doang seperti yang sudah-sudah. Akibat janji yang keseringan dan hasilnya menurut mereka tak berdampak apa-apa, itulah yang membuat warga masyarakat kelas bawah seperti pak Sumadi kali ini tidak begitu semangat menyambut pemilukada. Padahal sebelumnya, dia termasuk simpatisan aktif terhadap calon pemimpin yang menurutnya paling tepat memimpin. Tapi toh hasilnya sama saja. Jadilah kali ini dia ogah-ogahan. Seperti terlihat hari ini, biasanya pak Sumadi ikut diskusi aktif dengan seru bersama tukang becak lainnya, tapi ini ikut manggut-manggut saja sudah cukup. Malas. Tidak penting. Begitu fikirnya.

Lebih baik memfokuskan perhatian pada calon penumpang becaknya. Kali ini para tukang becak harus lebih aktif menawarkan calon penumpang untuk mau naik becak,
“Becak bu.”
“Becak pak.”
“Becak neng.”
Begitu terus seharian, karena tentu saja selain antre dengan tukang becak lainnya, mereka juga harus bersaing dengan para tukang ojek disini. Dulu belum ada ojek motor di perempatan ini, sehingga hasil dari narik becak lumayan besar. Walaupun hanya tiga ribu per narik, namun seharian mereka bisa dapat tiga puluh ribu sampai lima puluh ribu. Tapi sekarang, semenjak ada saingan ojek motor, meskipun ongkosnya lima ribu tetap saja tak bisa dapat lebih dari tiga puluh ribu sehari. Sebenarnya beberapa rekan profesi pak Sumadi banyak yang beralih menjadi tukang ojek motor, jadi lebih enak tidak terlalu capai mengayuh becak, dan sebenarnya lagi dia ingin pula seperti itu, tapi apa daya motor saja tidak punya, pernah menyewa dengan tetangga tapi yang ada justru nombok, rugi. Apalagi jalan aspal yang sudah lama tidak diperbaiki sepanjang jalur narik becaknya sudah rusak parah, banyak yang berlubang. Bahkan kemarin, jalan itu yang membuat becaknya peot, tidak dibayar pula.

“Kalau pilih nomor satu, jalanan ini langsung diperbaiki. Itu janji mereka kalau terpilih. Enak to? bisa lancar narik becak, mulus jalannya.” Pak Hadi terus berkampanye, hidungnya pun ikut kembang-kempis seirama dengan naik turun nada bicaranya. Usahanya berhasil, beberapa rekannya manggut-manggut mantap terlihat setuju dengan ucapan pak Hadi.
“Itu kan baru janji, nanti setelah terpilih jangan-jangan tidak terbukti.” Pak Sumadi akhirnya angkat bicara. Bukannya ingin memojokkan pak Hadi, hanya saja itu benar-benar kekhawatirannya dan mungkin juga kekhawatiran rekan-rekannya. Pak Hadi menatap tajam ke arah pak Sumadi, siap-siap dibidiknya dengan pernyataan balasan.
lha wong calon wakil bupatinya orang sini. Lahir di Merak, besar di Merak. Pasti yang pertama kali diperhatikan ya Merak dulu, jalan kampungnya ini dulu yang diperbaiki.” Begitu serangnya balik. Mau menyangkal bagaimana lagi pak Sumadi ini, begitu pikirnya sambil terus menatap pak Sumadi. Yang ditatap justru perlahan menoleh ke arah lain, sibuk menerawang dengan pikirannya sendiri. Skak mat, teriak batin pak Hadi bangga.
***
Pemilukada digelar seminggu lagi. Saat-saat kampanye semakin gencar dilakukan oleh masing-masing calon. Sepanjang jalan, gang-gang, termasuk di seluruh penjuru Kecamatan Merak penuh terpasang warna-warni bendera, spanduk, pamflet, juga baliho bergambar dua wajah. Pak Sumadi yang berada didalam hiruk pikuk pemilukada pun mau tidak mau, tidak bisa tidak, ikut larut dalam suasana ini. Apalagi hari ini, pak Sumadi mulai berfikir keras. Bakal calon mana yang akan dipilihnya di pemilukada kali ini. Ah, batinnya terus saja bertolak belakang, satu sisi bilang untuk apa mikir-mikir, toh suaranya tak akan berpengaruh apa-apa. Gitu-gitu wae jadi tukang becak. Ada tidaknya pemilukada, menang tidaknya calon bupati yang dipilhnya, tidak akan mengubah profesinya dari tukang becak, sekalipun itu hanya naik pangkat jadi tukang ojek. Sisi yang lain bilang, walau bagaimanapun dia masih bermimpi memiliki pemimpin yang baik, memperhatikan masyarakat kelas bawah seperti keluarganya. Minimal yang bisa menurunkan harga sembako. Itu saja. Tapi sepertinya masih jauh dari kenyataan, begitu yang berkecamuk sedari tadi dalam otaknya.

Beberapa calon pernah datang khusus ke desanya. Ada yang kampanye terang-terangan, ada yang katanya silaturahmi, ada lagi yang mengadakan pengajian akbar. Beberapa kali pak Sumadi mendapat baju saringan tahu bergambar dua wajah orang. Lumayan untuk baju dinas narik becak. Istrinya lain hal, kemarin dia begitu senang sampai histeris memanggilnya, menunjukkan dua buah plastik. Yang satu kecil dan yang satu lumayan besar dengan isi berwarna sama, warna biru. Jilbab dan baju gamis dari pak Rino, begitu kata istrinya sumringah sambil membuka dan mencoba sendiri baju gamis itu. Jelas saja istrinya senang, toh dia memang belum punya yang seperti itu.
“pilih pak Rino saja pak.”  Imbuh istrinya mantap, di sela-sela dia sibuk mencoba jilbab dan gamisnya.
***
Sampai H-1 menjelang pemilukada digelar, pak Sumadi belum juga memastikan calon mana yang akan dia pilih. Bukan karena dia masih tidak peduli, tapi karena pak Sumadi masih bingung. Kali ini, tidak ada calon yang benar-benar sreg dihatinya.
“Pak, pak, gitu aja kok dibuat repot.” Begitu komentar istrinya mendengar jawaban pak sumadi saat dia menanyakan calon mana yang akan dipilih suaminya itu. Tapi pak Sumadi memang begitu, walaupun cuma tukang becak, dia tidak mau hanya ikut-ikutan orang lain, apalagi mau memilih calon bupati hanya karena selembar dua lembar baju yang dia dapat.
“Daripada memilih calon yang tidak ngasih apa-apa, lebih baik memilih yang ngasih jilbab, gamis, sembako. Apalagi kalau janji-janjinya bagus.” Istrinya kembali berkomentar setelah mendengar pendapat pak Sumadi, bahwa suaranya tidak bisa dibeli dengan barang-barang seperti itu. Tidak peduli dengan komentar istrinya, pak Sumadi sibuk dengan pikirannya sendiri. Berpikir keras calon mana yang akan dia pilih besok. Pak Sumadi ingin memilih calon yang benar-benar tulus berniat mengemban tugas dengan baik, tidak membiarkan bawahannya korupsi apalagi dia sendiri yang korupsi. Tapi bagaimana cara membedakannya, mana calon yang memiliki niat baik dan mana calon yang memiliki niat tidak baik. Jelas bisa dibedakan, begitu pikirannya lagi. Dari gerak-geriknya, dari keluarganya, dari senyumnya. Ya! Itu dia. Senyumnya.
“Akan kupilih yang tersenyum. Akan kucoblos tepat di senyumannya. Kalau semua senyum, akan kupilih yang senyumnya ikhlas, tidak palsu.” Pak Sumadi berkata dalam hati. Menyimpulkan hasil pemikirannya sendiri.
“Tapi bagaimana membedakan antara senyum ikhlas dengan senyum tidak ikhlas?” pak Sumadi kembali bingung dengan kesimpulannya barusan.
“Ya pokoknya yang paling enak dilihat itu berarti senyum ikhlas.” Jawabnya lagi, asal saja.
***
Wajah-wajah itu berjejer rapi. Ada lima pasang calon dan semua tersenyum, bahkan ada yang memamerkan gigi-giginya yang putih bersih. Cukup lama pak Sumadi menatap satu-satu wajah-wajah itu di balik bilik suara. Semakin lekat ditatap, wajah-wajah itu semakin terlihat aneh. Olala, pak Sumadi membelalak tak percaya. Senyuman dari wajah-wajah itu berubah menjadi seringai lebar, lama-lama menjadi menakutkan. Pak Sumadi mengucek-ngucek matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Seringai-seringai itu kian menakutkan, gigi-gigi yang tadinya putih bersih menjadi hitam berkerak, dan dari sudut-sudut mulutnya keluar darah yang menetes semakin banyak. Pak Sumadi ketakutan, cepat-cepat dilipatnya kertas itu asal-asalan. Sedikit berlari, dia menuju kotak suara, menyerahkan dengan petugas. Petugas yang keheranan melihat pak Sumadi ketakutan itu membantu memasukkan kertas suaranya kedalam kotak suara. Pak Sumadi berlari pulang. Tidak perduli dengan tatapan aneh tetangga-tetangganya yang masih antre menunggu giliran menyoblos. Tidak perduli dengan kertas suaranya yang belum dicoblos. Sama sekali tidak perduli.

Natar, 28 November 2010

(dimuat dalam antologi kolase season 2 : Dari balik jendela)




Blog EntryAug 12, '11 4:18 AM
for everyone
 1. tiada kebencian dihatinya
cerpen perdana ini saya buat saat duduk di bangku SMP. dimuat di majalah anka-anak Andaka. sayangnya arsip majalahnya hilang. dan saya tidak punya naskahnya T,T

2. Ikhtong
cerpen ini saya buat saat masuk sebagai anggota FLP. lebih besar kemungkinan bisa ditemukan *.*

3. Namaku Ramadhan
ini juga dibuat sebagai syarat masuk sebagai anggota FLP.

4. Matahari milik Suci
cerpen ini hilang sehari setelah saya menyelesaikannya. terformat bersama teman2 puisi dalam satu folder saat kompi saya di instal ulang.

*berharap suatu hari ketemu. kalaupun tidak, sebenarnya saya masih ingat ceritanya juga alurnya. doakan bisa kembali ditulis lagi ya?*

Blog EntryJul 29, '11 3:40 AM
for everyone

Saya sedang sendiri. lebih tepatnya merasa sendiri. atau lebih tepat lagi sedang menyendiri (opo toh num?hehe). berfikir, merenung, syukur, harap, cemas, semua...tentang usia

di satu sudut, duduk. memandang kosong ke depan. ketika tiba2 ada seseorang yang menghampiri saya. duduk disamping saya. memberi secangkir kapucino hangat, menepuk-nepuk bahu saya. ah, tidak berlebihan rasanya jika saya bisa menangis saat itu juga. *_*

seseorang itu, teman yang saya kenal lewat fesbuk. teman yang sudah menganggap saya seperti saudaranya, dan saya pun begitu. saya bicara, dan ia mendengarkan. saya khawatir, ia menjawabnya dengan harap. saya harap, ia menjawabnya dengan semangat. dan inilah secangkir kapucino itu....(lengkapnya disini)

Untuknya.

Angka dua puluh empat. Benar. Jumlah itu memang tidak sedikit. Tahun lalu aku juga mengalami. Alhamdulillah. Dua puluh empat pada dua puluh tujuh. Perpaduan angka yang manis. Salah tiga angka favoritku terderet di sana.

Keep fighting, Sist! Karena hidup adalah perjuangan. Aku, kamu, dan juga mereka takterhingga mahluk-mahlukNya di muka bumi memang sudah, dan masih harus berjuang. Although the night is long, the sun comes up. Trust me, ‘someday’ itu akan tiba. *ah, mungkin terlalu sotoy. Tapi aku yakin. :)

someday....meski terus2an tanya 'kapan' itu berkelebat. anum percaya hari itu akan tiba. lagi-lagi, detik ini masih 'berusaha' untuk terus percaya ;)


Semoga ibadah kamu tetap dipenuhi cinta karenaNya. Semoga kamu selalu tetap terpesona oleh cintaNya. Yang karena itu semua, akan bertambah rasa syukur padaNya, cinta pada rasulNya, kasih pada dua orbit tersayangmu, dan cinta tumpah ruah pada sesama.

Semoga binar mata paling bahagia dan senyum paling indah dari dua orbit tersayangmu akan selalu (ya, selalu) tertuju padamu, meski kamu kadang tak menyadarinya. Aku –lagilagi— yakin –dan sok tau— akan hal itu. Semoga kamu dan keluargamu kelak dapat berkumpul kembali di jannahNya. Aamiin.

 amin amin Allahumma amiin... sepertinya memang anum kadang tak menyadarinya. selalu ada. akan selalu ada. detik ini, masih terhalang oleh cemas, oleh khawatir, seolah ada itu menjadi belum ada.


Semoga menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga punya jurus jitu buat ngontrol emosi. Semoga bisa lebih lancar bicara di depan umum (tak tik-ku biar ngurangin nervous, ambil nafas-pejamin mata-ngeyakinin diri-hembuskan. Lumayan manjur, lho!). Semoga tetep suka cappuccino dan tambah buah-buahan juga sayur mayur (aku banget). ^^v.. Sesulit apapun, semangat, Sist!! Life’s an adventure!

amin Allahumma amin....tengkyu triknya mb ^^, dlm sehari anum bisa habis 5 cangkir kapucino. mungkin lbh tepat mengurangi. karena nikmat justru ada saat jarang bertemu *apaan coba?hehe* semangat!!!!!^^v

Semoga tetap kuat untuk ‘berlari’. Kejarlah apa yang ingin tertangkap jika itu memang baik dan kamu yakin baik. Semoga bisa melanjutkan S2 (sebenarnya ini juga impianku yang suatu hari ingin aku ceritakan lika-likunya. Untukmu, aku mengamininya. Semoga secepatnya jadi mahasiswa pasca. Semoga secepatnya ‘disibukkan’ oleh thesis. Aku tau rasanya ‘menginginkannya’. Sungguh! hmm.. gimana kalo di Malang aja?). Semua akan indah pada waktunya. Aku –untuk ketiga kalinya—yakin akan hal itu. When we believe, miracle happens, Sist. Semoga bisa jadi dosen. Dan yang pasti, semoga tak bosan menghadapi berbagai pertanyaan. Enjoy those as ‘others’ do.

amin Allahumma amiin....waaahhhh, cerita dung mb, siap ni nyerap ilmu, hehehe.

Semoga ia segera datang menjemput tulang rusuknya yang hilang. Ia datang dan akan bersamamu menggenapkan separo dien. Melaksanakan perintahNya dan mengikuti sunnah rasulNya. Ia, muslim terbaik yang Allah pilih untukmu. Menjadi penyeimbangmu dalam banyak hal.

Di suatu tempat
Entah di mana, di dunia
Seseorang menunggumu, berdoa
Seperti doa yang biasa engkau ucapkan sehabis Shalat

Pada suatu saat
Entah apabila, di dunia
Seseorang merindukanmu, berjaga
Seperti malam malammu yang berlalu sangat lambat

Seseorang menungu, merindu, bejaga, dan berdoa
Seperti engkau selalu

[Ajip Rosidi, Ular dan Kabut ‘72]
amin Allahumma amiin...doa yg sama untukmu, sist. pun doa2 diatas semoga Allah memberkahinya untuk kita.


Semoga kamu tetap berharap. Terus berdoa. Dan selalu bermimpi.
Someday your painful life n heart will get well... InsyaAllah

Aamiin aamiin Allahumma aamiin...

Untuk Fadila Hanum, met milad ya.. semoga keberkahan itu tak berhenti mengalir di tiap detik usiamu. Aamiin.

amin Allahumma amin...hatur tengkyu seberat-beratnya mb......:*

Saya merasa hangat. pun merasa lebih kuat. sudah saatnya menghentikan airmata. berdiri. dan berlari.

luv u mb:*

-pondokautumn-

NoteGuestbook
   
indifadzati wrote on Dec 31, '09
:-)




indifadzati wrote on Dec 29, '09
@nila:lampung selatan. paten lampung tengah tapi...hehe
nilaqonita wrote on Dec 22, '09
Asslmk. Lampung mn mb?? Ak lamtim. paten Lampung.
indifadzati wrote on Dec 15, '09
lagi...coba-coba cat rumah ni..koq susah cari yang cocok ya
indifadzati wrote on Dec 3, '09
@zaidzy: wa'alaikumsalam...maaf msh berantakan baru pindahan...
zaidzydan wrote on Nov 28, '09
aslkm,........rumah yang langsung menyejukkan:)
indifadzati wrote on Nov 28, '09
test....
Pages:12

fadila

my name is fadila hanum. call me anum^^